Senin, 11 April 2011

Surveilans Gizi



BUKU RANCANGAN PENGAJARAN
Modul Surveilans Gizi

 Mahasiswa
SRI MULYANTI
 NPM.1006821924 









ProgramStudiSarjana Kesehatan Masy
Fakultas Kesehatan Masyarakat
Universitas Indonesia
2011


DAFTAR ISI
Buku Rancangan Pengajaran
PENGANTAR
PENDAHULUAN



BAB  I
DESKRIPSI SINGKAT
4
BAB II
KOMPETENSI  MATA KULIAH
Kompetensi
Subkompetensi

5
BAB III
BAHASAN DAN RUJUKAN

7
BAB IV
MATRIKS  KEGIATAN

8
BAB V
RANCANGAN TUGAS / LATIHAN

9
BAB VI
EVALUASI HASIL PEMBELAJARAN
HKASUS/SKENARIO
10









PENGANTAR

        Pembuatan Modul Surveilans Gizi ini ditujukan bagi mahasiswa S-1 Program Studi Kesehatan Masyarakat peminatan Bidan Komunitas untuk memudahkan mahasiswa dalam melakukan proses belajar dengan cara berpikir sistematis dan ilmiah. Tujuan pemberian modul ini adalah untuk meningkatkan pengetahuan mahasiswa dalam menjelaskan faktor penyebab/risiko kelainan/penyakit akibat kekurangan dan kelebihan zat gizi.
         Melalui modul ini, mahasiswa diharapkan dapat memahami hubungan antara faktor risiko dengan kelainan/penyakit akibat kekurangan dan kelebihan gizi pada kelompok populasi tertentu. Mudah-mudahan modul ini bermanfaat bagi seluruh mahasiswa


Depok, 28 Maret 2011


TIM MODUL SURVEILANS GIZI



PENDAHULUAN


    Masalah gizi kurang dan gizi lebih di Indonesia masih menjadi masalah kesehatan masyarakat.  Penyakit infeksi seperti Infeksi Saluran Pernafasan Akut (ISPA), diare, dan campak masih merupakan 10 penyakit utama dan masih menjadi penyebab utama kematian. Tingginya angka kesakitan dan kematian Ibu dan Anak Balita di Indonesia sangat berkaitan dengan  buruknya status gizi. Namun di sisi lain masalah kesehatan
masyarakat utama justru dipicu dengan adanya kelebihan gizi; meledaknya kejadian obesitas di beberapa daerah di Indonesia akan mendatangkan masalah baru yang mempunyai konsekuensi-konsekuensi serius bagi pembangunan bangsa Indonesia khususnya di bidang kesehatan.  Masih tingginya prevalensi kurang gizi di beberapa daerah dan meningkatnya prevalensi obesitas menjadi beban masalah gizi ganda di Indonesia. Kedua masalah gizi ini perlu ditangani dengan cepat untuk mencegah penyebarluasan masalah ini kelak di masyarakat melalui identifikasi faktor-faktor penyebab dan akibat yang muncul oleh kelebihan dan kekurangan gizi pada kelompok rawan gizi seperti ibu hamil, bayi, balita, anak sekolah, remaja puteri, dan lansia.  

BAB I
DESKRIPSI SINGKAT


Modul Pemantauan Wilayah Setempat (PWS) dan Surveilens Gizi merupakan satu bagian yang tidak terpsiahkan satu sama lain. PWS merupakan tools atau alat dalam melakukan proses surveillens gizi dengan tujuan untuk memecahkan masalah-masalah gizi pada kelompok risiko seperti bayi, balita, ibu hamil, remaja puteri, dan dewasa muda. 
Modul akan diberikan dalam 4 kali pertemuan @ 90 menit/sesi. Pada pertemuan pertama akan diberikan kuliah umum terkait modul ini, penjelasan tentang apa yang harus dilakukan oleh mahasiswa seperti merumuskan permasalahan, membuat kata-kata sulit (bila diperlukan), menetapkan kata-kata kunci terkait dengan rumusan masalah, membuat pertanyaan dari skenario yang telah diberikan. Akhirnya mahasiwa diminta untuk mencaritahu jawaban atas pertanyaan yang dibuat melalui proses belajar mandiri.
 Pertemuan kedua diisi dengan  presentasi tiap kelompok berdasarkan skenario yang didapat. Masukan dan pertanyaan akan diberikan oleh kelompok lain terkait isi substansi topik dalam skenario. 

Tujuan pembelajaran:

Mampu  memahami, melaksanakan dan  memanfaatkan sistem deteksi dini penyakit dan masalah kesehatan

Sasaran Pembelajaran:

  1. Mampu memahami konsep sistem deteksi dini masalah gizi dan kesehatan.
  2. Mampu memahami proses pengumpulan, pengolahan dan analisis data hingga menjadi informasi tentang masalah gizi.
3.      Mampu memanfaatkan sumber data yang tersedia untuk keperluan aksi (intervensi kesehatan, kebijakan, perencanaan, dll)
  1. Mampu melaksanakan tahapan manajemen data gizi dan kesehatan (pengumpulan, pengolahan dan analisis data hingga menjadi informasi)
BAB II
KOMPETENSI  MATA AJAR
Kompetensi  (Sasaran Pemelajaran)
Bila dihadapkan dengan suatu masalah gizi di tingkat masyarakat,  mahasiswa mampu menyusun program berbasis dan melibatkan masyarakat untuk mencegah dan menanggulangi masalah gizi tersebut. Jika diberikan data sekunder tentang masalah gizi dan penyakit yang disebabkan oleh kekurangan atau kelebihan zat gizi, mahasiswa mampu menafsirkan data tersebut. Termasuk  menerapkannya dalam  langkah pemecahan masalah yang baku,  tindakan pencegahan dan rujukan terhadap kasus kekurangan dan atau kelebihan gizi dengan menggunakan teknologi informasi yang sesuai, dengan memperhatikan konsep dan pertimbangan etik.

Subkompetensi (Sasaran Pemelajaran Penunjang)
Setelah menyelesaikan modul PWS Surveilans Gizi, maka mahasiswa mampu :
2.      Menentukan indikator gizi yang sesuai dengan masalah gizi yang terjadi pada anggota kelompok masyarakat tertentu
3.      Menentukan faktor penyebab/risiko kelainan/penyakit akibat kekurangan dan kelebihan zat gizi dan dapat menghubungkan faktor risiko tersebut dengan kelainan/penyakit yang didapat.
4.      Menjelaskan konsep sistem deteksi dini penyakit akibat kekurangan atau kelebihan gizi di masyarakat
5.      Menjelaskan dan melaksanakan tahapan manajemen data gizi (proses pengumpulan, pengolahan dan analisis) hingga menjadi informasi tentang penyakit akibat kekurangan dan kelebihan zat gizi
6.      Menjelaskan manfaat pengolahan data sebagai alat/metode guna memantau penyakit akibat kekurangan atau kelebihan gizi di masyarakat
7.      Memanfaatkan sumber data yang tersedia untuk keperluan aksi (intervensi kesehatan, kebijakan, perencanaan, dll)
8.      Menjelaskan dan melaksanakan tahapan manajemen sistem kendali mutu data gizi
Metoda pengajaran yang digunakan pada Modul PWS-Surveilans adalah pengajaran aktif mandiri (student centered), terintegrasi, menggunakan pendekatan metoda Pembelajaran Berdasarkan Masalah (PBM). Metoda pengajaran dalam modul ini, juga berdasarkan konsep pentahapan pembelajaran, yang terdiri dari tahap Orientasi, tahap Latihan dan tahap Umpan Balik.
Tahap Orientasi, bertujuan memberikan wawasan mengenai luasnya lingkup PWS-Surveilans, terdiri dari :
1.      Kuliah dan Tanya Jawab Materi Surveilans  Gizi = 4 x 90 menit
2.      Tahap Latihan (Diskusi dan Tugas Kelompok) , bertujuan untuk mengembangkan serta mempertajam dan meningkatkan kemampuan melalui berbagai pengalaman belajar :
3.      Pembelajaran Berdasarkan Masalah (Latihan Kasus) menggunakan 4/5 pemicu, masing-masing pemicu diselesaikan melalui 2 kali diskusi kelompok @ 2 – 3 jam (total 4 x 5 jam = 20 jam). Buku tugas (log book) wajib diisi pada saat diskusi kelompok dan pleno.
4.      Presentasi hasil diskusi – 4/5 pemicu (kali) @ 3 jam
5.      Tahap Umpan Balik, bertujuan untuk memberikan input kepada mahasiswa maupun pengelola modul dengan melakukan penilaian proses dan hasil yang telah dicapai mahasiswa:
6.      Proses diskusi – observasi partisipasi mahasiswa dalam diskusi yang bersifat formatif pada setiap sesi kegiatan dan pada akhir modul bersifat sumatif
7.      Penguasaan materi – ujian formatif MCQ, True/False 2 kali pada minggu ke-2 dan ke-5



BAB III
BAHASAN  DAN  RUJUKAN

Kompetensi, Bahasan, Estimasi Waktu, dan Rujukan
No.
Kompetensi/subkompetensi
Pokok Bahasan
Subpokok Bahasan
Estimasi Waktu (jam)
Rujukan
1.
Menentukan besarnya masalah gizi (akibat kekurangan dan kelebihan zat gizi) dalam masyarakat (baik data primer maupun sekunde




    






















































·         Sumber Pembelajaran
1.      Buku referensi:
Arisman.2004.Gizi Dalam Daur Kehidupan. Penerbit Buku Kedokteran EGC, Jakarta.
Almatsier,S.2002.Prinsip Dasar Ilmu Gizi. Pt. Gramedia Pustaka Utama. Jakarta
Departemen Gizi dan Kesehatan Masyarakat Fakultas Kesehatan Indonesia.2007. Gizi dan Kesehatan Masyarakat. Jakarta
Tata Laksana Gizi Buruk. Direktorat Bina Gizi Masyarakat. Depkes.
Santoso, Sugeng,1999. Gizi dan Kesehatan.Yogyakarta, Rineke Cipta.
2.      Materi kuliah
3.      Internet

·         Media Pengajaran
1.      Overhead projector
2.      LCD projector
3.      White board
4.      Spidol

BAHASAN
Pengertian Surveilens
Menurut WHO, Surveilans adalah kegiatan pengamatan berkelanjutan melalui proses pengumpulan, pengolahan, analisis dan interpretasi serta penyebarluasan informasi kepada unit yang membutuhkan untuk tindakan.Surveilens merupakan kegiatan analisis secara sistematis dan terus menerus terhadap penyakit dan masalah-masalah kesehatan serta kondisi yang memperbesar risiko terjadinya peningkatan dan penularan penyakit serta masalah-masalah kesehatan tersebut agar dapat melakukan tindakan penanggulangan secara efektif dan efisien melalui proses pengumpulan data, pengolahan dan penyebaran informasi epidemiologi kepada penyelenggara program kesehatan.
Surveilens adalah kegiatan perhatian yang terus menerus pada distribusi dan kecenderungan penyakit melalui sistematika pengumpulan data, konsolidasi, dan evaluasi laporan morbiditas serta mortalitas juga data lain yang sesuai, kemudian disebarkan kepada mereka yang ingin tahu  (a) Pengumpulan data yang sistematik, (b) Konsolidasi dan evaluasi data, (c) Diseminasi awal pada mereka yg butuh informasi, terutama mereka yang berposisi pengambil keputusan. (Langmuir, 1963).
Surveilens berfungsi sebagai otak dan sistem saraf untuk program pencegahan dan pemberantasan penyakit. (D.A. Henderson, 1976). Surveilens Gizi adalah mengamati keadaan gizi secara terus -menerus untuk pengambilan keputusan bagi upaya peningkatan dan pencegahan memburuknya keadaan gizi masyarakat (Morley, 1976; Foege,1976, Aranda Pastor 1983, Mason, 1984). Definisi lain surveilens gizi ialah pengamatan yang rutin dan sistematis terhadap masalah gizi serta faktor risiko yang menyebabkannya, agar dapat dilakukan tindakan penanggulangan secara efektif dan efisien melalui proses analisis informasi dari kegiatan pengumpulan, pengolahan, analisis dan interpretasi data serta distribusi informasi.
Tujuan dari surveilans adalah mendapatkan informasi tentang masalah kesehatan meliputi gambaran masalah kesehatan menurut waktu, tempat dan orang, diketahuinya determinan, faktor risiko dan penyebab langsung terjadinya masalah kesehatan tersebut.
 Berdasarkan SK Menkes no 1116/Menkes/SK/VIII/200,  surveillens epidemiologi adalah pengamatan terus menerus dan dilaksanakan secara sistematis terhadap penyakit atau masalah kesehatan serta faktor-faktor yang mempengaruhinya agar dapat dilakukan tindakan perbaikan atau penelitian melalui kegiatan pengumpulan, pengolahan, dan analisis/ interpretasi data, diseminasi informasi dan komunikasi ke berbagai pihak terkait. (www.surveilans.org)
Ruang lingkup surveilans epidemiologi ada 5, yaitu: Surveilans Epidemiologi Penyakit Menular, Surveilans Epidemiologi Penyakit Tidak Menular, Surveilans Epidemiologi Kesehatan Lingkungan dan Perilaku, Surveilans Epidemiologi Masalah Kesehatan, dan Surveilans Epidemiologi Kesehatan Matra. Surveilans gizi termasuk dalam ruang lingkup Surveilans Epidemiologi Masalah Kesehatan.
Surveilans gizi adalah mengamati keadaan gizi secara terus menerus untuk pengambilan keputusan bagi upaya peningkatan dan pencegahan memburuknya keadaan gizi masyarakat (Morley, 1976; Foege , 1976, Aranda Pastor 1983, Mason, 1984). Surveilan gizi juga dapat berarti perlu pengumpulan data secara teratur, baik yang dilakukan secara khusus maupun dari data yang sudah ada atau keduanya (Lwanga , 1983).
Berikut ini adalah indikataor surveilans gizi pada pada masalah gangguan pertumbuhan dan KEP pada Balita. (www.gizi.net)
1.      Masalah Gangguan Pertumbuhan Balita
      Definisi : Gangguan pertumbuhan: bila BGM atau tiga kali penimbangan bulanan
                      tidak naik berat badan (BB)
      Kegunaan:
       A. Screening individu balita untuk rujukan/perawatan/treatmen
            a). Indikator                : Pertumbuhan berat badan (SKDN)
            b). Cut-off                   : 1. BGM (BB/U < -3SD) 
                                                  2. 3T (3 kali penimbangan tidak naik BB)
            c). Sumber data           : Posyandu  (Penimbangan bulanan)
            d). Frekuensi                : Sekali sebulan
           e). Tujuan                  : Screening balita yang memerlukan tindakan rujukan atau
                                                 intervensi khusus (pengobatan dan atau PMT pemulihan)
           f). Pengguna              : Puskesmas

    B. Gambaran keadaan pertumbuhan balita tingkat kecamatan
           a). Indikator         : 1. % N/(D-O-B) dengan kondisi (D/S >= 80%). Bila D/S belum
                                               >=80% upayakan untuk ditingkatkan.
                                          2. % BGM/D
          b). Trigger level : 1. % N/(D-O-B) < 60% 2. % BGM > 1%
          c). Sumber data        : Puskesmas (Kompilasi laporan SKDN dari Puskesmas-2
                                               yang ada di  wilayah kecamatan bersangkutan)
          d). Frekuensi     : Sekali sebulan
          e). Tujuan          : Evaluasi keadaaan pertumbuhan balita untuk tindakan preventif  
                                       terhadap memburuknya keadaan gizi
          f). Pengguna      : Kecamatan
     
     C. Gambaran keadaan pertumbuhan balita antar kecamatan dalam kabupaten
          a). Indikator      : 1. % N/(D-O-B) dengan kondisi (D/S >= 80%). Bila D/S belum
                                           >=80% upayakan untuk ditingkatkan.
                                       2. % BGM/D
          b). Trigger level : 1. % N/(D-O-B) < 60%, dan             2. % BGM > 1%
          c). Sumber data       : Kecamatan (Kompilasi laporan SKDN dari Kecamatan-2
                                              yang ada di wilayah kabupaten bersangkutan)
          d). Frekuensi     : Sekali sebulan
          e). Tujuan           : Evaluasi keadaaan pertumbuhan balita untuk tindakan preventif
                                        terhadap memburuknya keadaan gizi
          f). Pengguna      : Kabupaten --- dan --- propinsi

2.      Masalah KEP Balita
        Definisi:  Gizi kurang bila BB/U < -2 SD dan Gizi buruk bila BB/U < -3 SD
          Kegunaan:
          A. Screening individu balita untuk rujukan/perawatan/treatment
              a). Indikator              : BB/U
              b). Cut-off                 : BB/U <-2 SD (gizi kurang) dan BB/U < -3 SD
                                                  (gizi buruk), kwasiorkor dan marasmus
              c). Sumber data         : Puskesmas (Pelacakan gizi buruk, kunjungan pasien, dan
                                                  opsional kegiatan bulan penimbangan)
              d). Frekuensi             : Setiap ditemukan kasus (setiap saat)
              e). Tujuan                  : Rujukan atau memberikan treatment khusus bagi
                                                  penderita sesuai dengan “grade” kurang gizinya.
              f). Pengguna              : Puskesmas

         B. Memberikan gambaran perkembangan keadaan gizi balita di kecamatan-2 dalam kabupaten
               a). Indikator             : Prevalensi gizi kurang dan gizi buruk
               b). Trigger level        : 1. Prevalensi gizi kurang > 20%, atau
                                                  2. Prevalensi gizi buruk > 1%
               c). Sumber data        : Pemantauan Status Gizi (PSG)
               d). Frekuensi            : Sekali setahun
               e). Tujuan                 : Evaluasi perkembangan keadaan gizi balita untuk
                                                  perencanaan program dan perumusan kebijakan
               g). Pengguna            : Kabupaten, Propinsi --- dan --- Pusat
     
       C. Memberikan gambaran perkembangan keadaan gizi balita tingkat Propinsi dan
            nasional
               a). Indikator             : Prevalensi gizi kurang dan gizi buruk
                b). Trigger level       : 1. Prevalensi gizi kurang > 20%, atau
                                                  2. Prevalensi gizi buruk > 1%
               c). Sumber data        : BPS (Susenas)
               d). Frekuensi            : Sekali dalam 3 tahun
               e). Tujuan                 : Evaluasi perkembangan keadaan gizi balita untuk
                                                  perencanaan program dan perumusan kebijakan
                                                  di tingkat nasional
               f). Pengguna             : Pusat

Pengertian Gizi Buruk
Gizi buruk adalah keadaan kurang gizi tingkat berat pada anak dengan indeks antropometri berat badan terhadap tinggi badan (BB/TB) < - 2 SD atau ditemukan tanda-tanda klinis marasmus dan kwashiorkor. Gizi buruk adalah bentuk terparah dari proses terjadinya kekurangan gizi menahun. Anak balita yang sehat atau kurang gizi secara sederhana dapat diketahui dengan membandingkan antara berat badan menurut umur atau berat badan menurut tinggi, apabila jauh dibawah standar disebut gizi buruk. Bila gizi buruk disertai dengan tanda-tanda klinis seperti : anak sangat kurus, wajah seperti orang tua, perut cekung, kulit keriput disebut marasmus, dan bila ada bengkak seluruh tubuh terutama pada kaki, wajah membulat dan sembab, rambut tipis, kemerahan, mudah dicabut, otot mengecil disebut kwashiorkor.
1.         Besar situasi masalah penyakit dan gizi menurut daerah dan waktu
      Berdasarkan data Susenas, prevalensi gizi buruk dan kurang pada balita telah berhasil diturunkan dari 33,57% pada tahun 1992 menjadi 24,66% pada tahun 2000. Namun terdapat kecenderungan peningkatan kembali pada tahun-tahun berikutnya. Selain itu jika melihat pertumbuhan dan jumlah penduduk dan proporsi balita dari tahun ke tahun, sebenarnya jumlah balita penderita gizi buruk dan kurang cenderung meningkat.
2.         Alasan melaksanakan surveilens
Untuk menanggulangi terjadinya KLB atau kasus gizi terutama gizi buruk, maka perlu diupayakan suatu sistem kewaspadaan terhadap ancaman terjadinya gizi buruk tersebut. Maka melalui kegiatan surveilens dan informasinya diharapkan tercapainya peningkatan sikap tanggap kesiapsiagaan, dilakukannya upaya pencegahan dan tindakan penanggulangan kejadian luar biasa yang cepat dan tepat.     Upaya perbaikan gizi dengan ruang lingkup nasional dimulai pada tahun 1980. Diawali dengan berbagai survei dasar, disusun strategi dan kebijakan yang pada umumnya melibatkan berbagai sektor terkait. Keberhasilan program perbaikan gizi dinilai berdasarkan laporan rutin dan juga survei berkala melalui survei khusus maupun diintegrasikan pada survei nasional seperti Susenas, Survei Kesehatan Rumah Tangga dan lain-lain.
     Status gizi anak balita secara sederhana dapat diketahui dengan membandingkan antara berat badan menurut umur maupun menurut panjang badannya dengan rujukan (standar) yang telah ditetapkan. Apabila berat badan menurut umur sesuai dengan standar, anak disebut gizi baik. Kalau sedikit di bawah standar disebut gizi kurang. Apabila jauh di bawah standar dikatakan gizi buruk. Namun penghitungan berat badan menurut panjang badan lebih memberi arti klinis. Pengertian gizi buruk adalah keadaan kurang gizi tingkat berat pada anak dengan indeks antropometri berat badan terhadap tinggi badan (BB / TB) < - 3 SD atau ditemukan tanda-tanda klinis marasmus dan kwashiorkor.
      Pada fase lanjut (gizi buruk) akan rentan terhadap infeksi, terjadi pengurusan otot, pembengkakan hati, dan berbagai gangguan yang lain seperti misalnya peradangan kulit, infeksi, kelainan organ dan fungsinya (akibat atrophy / pengecilan organ tersebut). Bila gizi buruk disertai dengan tanda-tanda klinis seperti : wajah sangat kurus, muka seperti orang tua, perut cekung, kulit keriput disebut marasmus, dan bila ada bengkak terutama pada kaki, wajah membulat dan sembab disebut kwashiorkor.
      Malnutrisi adalah keadaan gangguan gizi yang disebabkan oleh kurangnya asupaN makanan dalam waktu yang lama. Malnutrisi merupakan masalah utama kesehatan di dunia. Malnutrisi berkaitan dengan kemiskinan, berat badan lahir rendah, gagal tumbuh sehingga kurangnya daya tahan tubuh yang dapat menimbulkan penyakit infeksi (Kanarek, Robin B, 1991)

Penyebab
Gizi buruk dipengaruhi oleh banyak faktor yang saling terkait. Secara garis besar penyebab anak kekurangan gizi disebabkan karena asupan makanan yang kurang atau anak sering sakit / terkena infeksi.
1.        Asupan yang kurang disebabkan oleh banyak faktor antara lain :
a.       Tidak tersedianya makanan secara adekuat.
Kemiskinan sangat identik dengan tidak tersedianya makan yang adekuat. Kemiskinan merupakan penyebab pokok atau akar masalah gizi buruk. Makin kecil pendapatan penduduk, makin tinggi persentasi anak yang kekurangan gizi.
b.      Anak tidak cukup mendapat makanan bergizi seimbang.
Makanan alamiah terbaik bagi bayi yaitu Air Susu Ibu, dan sesudah usia 6 bulan anak tidak mendapat Makanan Pendamping ASI (MP-ASI) yang tepat, baik jumlah dan kualitasnya akan berkonsekuensi terhadap status gizi bayi. Pada keluarga dengan tingkat pendidikan dan pengetahuan yang rendah seringkali anaknya harus puas dengan makanan seadanya yang tidak memenuhi kebutuhan gizi balita karena ketidaktahuan.
c.       Pola makan yang salah.
          Suatu studi "positive deviance" mempelajari mengapa dari sekian banyak bayi dan balita di suatu desa miskin hanya sebagian kecil yang gizi buruk, padahal orang tua mereka semuanya petani miskin. Dari studi ini diketahui pola pengasuhan anak berpengaruh pada timbulnya gizi buruk. Anak yang diasuh ibunya sendiri dengan kasih sayang, apalagi ibunya berpendidikan, mengerti soal pentingnya ASI, manfaat posyandu dan kebersihan, meskipun sama-sama miskin, ternyata anaknya lebih sehat. Unsur pendidikan perempuan berpengaruh pada kualitas pengasuhan anak. Sebaliknya sebagian anak yang gizi buruk ternyata diasuh oleh nenek atau pengasuh yang juga miskin dan tidak berpendidikan. Banyaknya perempuan yang meninggalkan desa untuk mencari kerja di kota bahkan menjadi TKI, kemungkinan juga dapat menyebabkan anak menderita gizi buruk.
          Kebiasaan, mitos ataupun kepercayaan / adat istiadat masyarakat tertentu yang tidak benar dalam pemberian makan akan sangat merugikan anak . Misalnya kebiasaan memberi minum bayi hanya dengan air putih, memberikan makanan padat terlalu dini, berpantang pada makanan tertentu ( misalnya tidak memberikan anak anak daging, telur, santan dll) , hal ini menghilangkan kesempatan anak untuk mendapat asupan lemak, protein maupun kalori yang cukup.
2.        Sering sakit (frequent infection)
Kaitan infeksi dan kurang gizi seperti layaknya lingkaran setan yang sukar diputuskan, karena keduanya saling terkait dan saling memperberat. Kondisi infeksi kronik akan meyebabkan kurang gizi dan kondisi malnutrisi sendiri akan memberikan dampak buruk pada sistem pertahanan sehingga memudahkan terjadinya infeksi

A.       Klasifikasi
 Gizi buruk dibagi menjadi tiga, yaitu :
1.    Marasmus
   Tanda-tanda :
·      Anak tampak sangat kurus, tinggal tulang terbungkus kulit
·      Wajah seperti orang tua
·      Cengeng, rewel
·      Perut cekung
·      Kulit keriput, jaringan lemak subkutis sangat sedikit sampai tidak ada
·      Sering disertai diare kronik atau konstipasi serta penyakit kronik
·      Tekanan darah, detak jantung dan pernapasan berkurang

2.    Kwashiorkor
   Tanda-tanda :
·       Edema umumnya di seluruh tubuh terutama pada kaki (dorsum pedis)
·       Wajah membulat dan sembab
·      Otot-otot mengecil, lebih nyata apabila diperiksa pada posisi berdiri dan duduk, anak berbaring terus menerus
·       Cengeng, rewel kadang apatis
·       Anak sering menolak segala jenis makanan
·       Pembesaran hati
·       Sering disertai infeksi, anemia dan diare
·       Rambut berwarna kusam dan mudah dicabut
·      Gangguan kulit berupa bercak merah dan meluas dan berubah menjadi hitam dan terkelupas (Crazy Pavement Dermatosis)
·       Pandangan mata anak tampak sayu

b.                                                           3.  Marasmus Kwashiorkor
   Tanda-tanda :
·       Merupakan gabungan tanda-tanda dari marasmus dan kwashiorkor

B.       Cara diagnosa
Status gizi dapat ditentukan dengan empat cara yaitu: antropometri, klinis, riwayat gizi dan biokimia. Status gizi (gizi lebih, baik, kurang atau buruk) dapat diketahui dengan membandingkan indeks BB/U, TB/U dan BB/TB dengan baku antropometri yang digunakan di Indonesia yaitu baku WHO-NCHS.  Penentuan status gizi buruk dapat dilakukan dengan cara melakukan penimbangan berat badan dan pengukuran tinggi badan balita seperti yang tersebut diatas, jika setelah diplot pada KMS ternyata BB anak berada di bawah garis merah (BGM), maka lihat kembali apakah BB/U atau BB/TB < - 3 SD, jika ya maka dapat dikategorikan sebagai balita gizi buruk.
Diagnosis kurang gizi selain ditegakkan melalui pemeriksaan antropometri   (penghitungan berat badan menurut umur /panjang badan) dapat juga melalui temuan klinis yang dijumpai. Keadaan klinis gizi buruk dapat dibagi menjadi kondisi marasmus, kwasiorkor dan bentuk campuran (marasmik kwasiorkor). Apabila ditemukan balita dengan wajah sangat kurus, muka seperti orang tua, perut cekung, kulit keriput disebut marasmus, dan bila ada bengkak terutama pada kaki, wajah membulat dan sembab disebut kwashiorkor. Marasmus kwashiorkor merupakan gabungan tanda-tanda dari marasmus dan kwashiorkor. Pada balita gizi buruk harus dicari juga apakah ada penyakit penyerta lainnya yang dapat memperburuk kondisi status gizinya.

C.      Prevalensi
Keadaan status gizi balita mengalami perbaikan yaitu dengan menurunnya prevalensi gizi kurang dari 31.6 % pada tahun 1995 menjadi 26.1 % pada tahun 2001, demikian pula prevalensi gizi buruk mengalami penurunan dari 11.6 % pada tahun 1995 menjadi menjadi 6.3% pada tahun 2001. Selanjutnya terjadi peningkatan secara perlahan prevalensi gizi kurang menjadi 27.5% pada tahun 2003, demikian pula prevalensi gizi buruk meningkat menjadi 8.3 % pada tahun yang sama. Pada tahun 2004, terjadi sedikit penurunan prevalensi gizi kurang menjadi 25.4% dan gizi buruk menjadi 7.2 %.
Berdasarkan perkembangan masalah gizi, pada Tahun 2004 diperkirakan sekitar 5 juta balita menderita gizi kurang (berat badan menurut umur), 1,4 juta di antaranya menderita gizi buruk. Dari balita yang menderita gizi buruk tersebut ada 140.000 menderita gizi buruk tingkat berat yang disebut marasmus, kwashiorkor, dan marasmus-kwashiorkor, yang memerlukan perawatan kesehatan yang intensif di Puskesmas dan Rumah Sakit. Berdasarkan hasil surveilans Dinas Kesehatan Propinsi dari bulan Januari sampai dengan bulan Desember 2005, total kasus gizi buruk sebanyak 76.178 balita. Kasus gizi buruk yang dilaporkan menurun setiap bulan. Semua anak gizi buruk mendapatkan penanganan berupa: perawatan di Puskesmas dan di Rumah Sakit serta dilakukan tindak lanjut paska perawatan berupa rawat jalan, dan melalui posyandu untuk dipantau kenaikan berat badan dan mendapatkan makanan tambahan.
Pada bulan Mei 2005, kasus gizi buruk dilaporkan dari propinsi NTB dan NTT dengan jumlah kasus sebanyak 9.592 kasus. Pada bulan Juni jumlah kasus gizi buruk yang dilaporkan meningkat 49.754, hal ini disebabkan jumlah propinsi yang melapor meningkat menjadi 26 propinsi. Di samping itu peningkatan jumlah kasus yang besar karena adanya kegiatan pencarian kasus baru secara aktif melalui operasi timbang dengan target semua balita ditimbang dan diukur status gizinya.
Pada bulan Juli 2005 jumlah propinsi yang melapor meningkat menjadi 28 propinsi dengan total kasus yang dilaporkan sebanyak 1.445 anak. Pada bulan Agustus tahun 2005, propinsi yang melapor menjadi 29 propinsi dengan jumlah baru yang dilaporkan sebanyak 10.355 anak, penjaringan kasus pada bulan ini dilakukan bersamaan dengan kampanye pemberian kapsul Vitamin A. Bulan September dan Oktober 2005 jumlah kasus yang dilaporkan menurun menjadi 471 anak dan 440 anak. Pada bulan November 2005 kasus yang dilaporkan sebanyak 164 kasus. Pada bulan Desember 2005 dilaporkan sebesar 3.957 anak (Grafik 2).
 Jumlah kasus gizi buruk yang meninggal dunia dilaporkan dari bulan Januari 2005 sampai Desember 2005 adalah 293 balita (Grafik 3). Kasus gizi buruk yang meninggal tersebut pada umumnya disertai dengan penyakit infeksi seperti ISPA, diare, TB, campak dan malaria. Jumlah kasus gizi buruk yang meninggal tertinggi terjadi pada bulan Juni sebanyak 107 kasus, selanjutnya pada bulan-bulan berikutnya kasus gizi buruk yang meninggal cenderung menurun. Namun demikian pada bulan Desember 2005 kasus gizi buruk yang dilaporkan meninggal dunia sebanyak 56 kasus yang merupakan laporan dari 9 propinsi yaitu dari Jatim 14 kasus, Sulsel 13 kasus, Gorontalo 13 kasus,NTB 2 kasus, NTT 6 kasus, Lampung 4 kasus, Sulteng 2 kasus, serta Maluku dan Malut masing-masing 1 kasus.

Faktor Risiko / Gizi yang mempengaruhi
Banyak faktor yang mempengaruhi timbulnya gizi buruk dan faktor tersebut saling berkaitan. Secara langsung, pertama: anak kurang mendapat asupan gizi seimbang dalam waktu cukup lama, dan kedua: anak menderita penyakit infeksi. anak yang sakit, asupan zat gizi tidak dapat dimanfaatkan oleh tubuh secara optimal karena adanya gangguan penyerapan akibat penyakit infeksi. Secara tidak langsung penyebab terjadinya gizi buruk yaitu tidak cukupnya persediaan pangan di rumah tangga, pola asuh kurang memadai dan sanitasi/kesehatan lingkungan kurang baik serta akses pelayanan kesehatan terbatas. Akar masalah tersebut berkaitan erat dengan rendahnya tingkat pendidikan, tingkat pendapatan dan kemiskinan keluarga.

INDIKATOR SURVEILANS GIZI
Indikator merupakan suatu alat yang dipakai untuk mengamati dan mendapatkan informasi. Indikator dirancang dari serangkaian pengukuran.

I. SIFAT-SIFAT UMUM INDIKATOR
Prinsip indikator berdasar pengukuran, tetapi mempunyai arti yang lebih daripada hanya hasil pengukuran. Suatu indicator mungkin tersusun dari hasil pengukuran-pengukuran di antara suatu kelompok masyarakat atau suatu daerah.
  1. Titik Putus dan Titik Aksi
Nilai yang menjadi batas keadaan yang masih diterima atau batas normal, disebut titik putus bagi perorangan atau satuan data. Salah satu keuntungan dari penggunaan titik putus adalah usaha system pengamatan gizi dapat memusatkan diri pada sumber pengukuran deretan variable yang jatuh bebas.
Pengamatan bagian populasi yang terdapat dibawah titik putus, yang menjadi syarat dimulainya suatu tindakan dapat disebut titik aksi.
  1. Sifat-sifat Indikator Sehubungan dengan Pengukuran dan Arti Pentingnya Kecenderungan yang Terlihat
Indikator harus bersifat peka terhadap perubahan-perubahan dalam status gizi masyarakat pada waktu sekarang ataupun waktu yang akan datang.
Perkataan kunci yang penting dan menentukan disini adalah kritis, yang berarti bahwa suatu perubahan dalam status gizi yang cukup besar sehingga memerlukan tindakan penanggulangan, haruslah jelas tercermin dalam perubahan dan pada indicator. Titik aksi yang telah ditentukan terlebih dahulu untuk saat memulai tindakan penanggulangan, dapat berbeda-beda sesuai dengan situasi dan kondisi dan hal ini akan berpengaruh pada pemilihan dan penentuan indicator dan titik aksinya. Suatu perubahan dalam indicator atau dalam gambaran kecenderungannya, akan merupakan tanda yang dapat dipercaya untuk memulai tindakan penanggulangan, hanyalah bila perubahan atau kecenderungan itu terletak di luar daerah nilai-nilai normal atau di luar variasi yang biasa terdapat. Tingkat ketepatan interpretasi dari perubahan itu tergantung pula pada teknik standar bagi pengukuran sampel dalam jangka waktu tertentu.
            Sifat spesifik suatu indikator, akan berbeda nilainya bagi sistem surveilans gizi dalam situasi yang berbeda. Sebagai contoh, bila defisiensi zat besi di suatu daerah merupakan sebab utama timbulnya anemia, maka perubahan dalam prevalensi kadar hemoglobin rendah akan merupakan indicator baik bagi status gizi zat besi. Namun hal ini tidaklah benar untuk daerah yang mempunyai penyakit malaria sebagai sebab utama timbulnya anemia tersebut. Demikian pula indicator bagi situasi bahan pangan di pasar perkotaan mungkin akan mempunyai manfaat kecil saja untuk memahami situasi di daerah pedesaan yang terpencil, yang secara praktis menghasilkan sendiri bahan pangan yang dikonsumsinya.

    c .    Sifat-sifat indikator sehubungan dengan sampel
Struktur dan sifat-sifat sampel mempunyai pengaruh terhadap tingkah laku indikator dan terhadap interpretasinya. Idealnya suatu sampel sebaiknya dipilih mewakili populasi yang sedang dilakukan usaha system pengamatan gizi terhadapnya, serta dibagi dalam kelompok-kelompok yang bersifat relative homogen. Bila hal ini tercapai, maka indicator akan bersifat mempunyai sesivitas dan spesifitas optimum, maka dapat diambil berbagai interpretasi dengan tingkat ketepatan tertentu dan diketahui bahwa mewakili populasi induknya dengan cukup.
 Dalam pelaksanaannya, keadaan yang ideal ini mungkin sulit dicapai, disebabkan keterbatasan biaya atau sukarnya mencapai kelompok-kelompok masyarakat tertentu, atau dapat pula karena sumber-sumber data yang tersedia tidak mampu meliputi seluruh populasi yang dituju, sehingga hasilnya tidaklah mewakili secara representatif, misalnya catatan suatu Klinik Kesehatan Ibu dan Anak, mungkin masih  dapat dipergunakan bahkan mungkin sangat berarti tetapi sebaiknya tidak dipakai untuk ekstrapolasi kesimpulan secara umum.

        d. Sifat-sifat Operasional
      Nilai suatu indikator atau gambaran haruslah seimbang dengan pertimbangan praktis tertentu, yaitu :
      - Mudahnya pengukuran
      Data yang dicapai dengan mudah dengan peralatan minimum dan sedikit  memerlukan pengolahan jelas, mempunyai kelebihan keuntungan terhadap yang memerlukan metode yang berliku-liku. Namun ada beberapa keterangan akan lebih mudah didapat dengan pertolongan teknologi canggih, misalnya : dengan teknik fotogrametik udara.
      - Kecepatan dan frekuensi tersedianya data.
      Bila data dihasilkan  secara berkesinambungan, maka indikatornya mempunyai kelebihan dalam hal waktu. Hal ini sangat penting bagi penemuan dini perubahan-perubahan yang mungkin terjadi. Nilai indicator dapat pula ditingkatkan dengan semakin besarnya frekuensi pengumpulan data, tetapi sebaliknya hal ini haruslah dipertimbangkan dengan tambahan biaya. Pengukuran yang dilakukan berkesinambungan tidaklah sinonim dengan tersedianya data untuk dipergunakan secara terus menerus. Sebagai contoh, data dari suatu sampel yang representative yang mungkin dikumpulkan secara berkesinambungan, tetapi hanyalah akan mempunyai arti bila seluruh sampelnya telah terkumpul. Maka tidaklah ada gunanya untuk mengusahakan tersedianya data lebih cepat ataupun lebih sering, jika tidak dapat cepat masuk atau siap pakai.

       - Biaya
      Biaya untuk usaha mendapatkan data merupakan kendala menyeluruh yang harus dipertimbangkan dalam menilai suatu indicator. Biaya mempunyai hubungan dengan semua pertimbangan pelaksanaan dan dipengaruhi oleh sifat-sifat yang telah dikemukakan terlebih dahulu. Karena itu, diperlukan pengambilan keputusan besar dalam segi pelaksanaan dan mempertimbangkan sumber-sumber data yang tersedia, dalam rangka keseimbangan anatara nilai data dan biaya untuk mencapainya.

II.  JENIS-JENIS INDIKATOR SURVEILANS GIZI

A. Indikator SKPG (Sistem Kewaspadaan Pangan Dan Gizi)
      Indikator yang digunakan dalam SKPG harus dapat menggambarkan perubahan situasi pangan dan gizi. Indikator dimaksud meliputi situasi produksi pangan dan faktor-faktor utama yang mepengaruhinya, distribusi dan konsumsi pangan serta status gizi.
      Indikator SKPG dapat dikelompokkan menurut sifat penerapannya yaitu :
1.   Indikator yang bersifat universal (berlaku umum) seperti jumlah keluarga miskin, status gizi dan harga pangan pokok
2.   Indikator yang bersifat spesifik lokal seperti meningkatnya penjualan aset rumah tangga, meningkatkan jumlah pengangguran, meningkatkan kriminalitas dan lain sebagainya. Indikator spesifik lokal dapat dikembangkan oleh  Tim Pangan dan Gizi (TPG) di masing-masing daerah

Sesuai dengan fungsi dan kegunaannya, indikator SKPG dikategorikan dalam 3 kelompok utama, yaitu:
1.   Indikator untuk pemetaan situasi pangan dan gizi kecamatan, yaitu prevalensi KEP, luas kerusakan dan jumlah keluarga miskin
2.   Indikator untuk peramalan produksi dan distribusi pangan, yaitu luas tanam, luas kerusakan, luas panen, harga panen, harga pangan pokok dan status gizi masyarakat
3.   Indikator untuk pengamatan kejadian rawan pangan dan gizi, yaitu kejadian lokal (indikator lokal) yang dapat dipakai untuk mengamati ada tidaknya kejadian rawan pangan  dan gizi

B. INDIKATOR SIDI ( SISTEM ISYARAT DINI DAN INTERVENSI)
 Penentuan indikator SIDI berkaitan dengan permasalahan pangan dan gizi, tipe informasi yang kemudian dapat menghasilkan indikator, dapat dikelompokkan berdasarkan urutan penyebabnya sebagai berikut :
    Tingkat A : - ekologi : meteorologi, tanah air, vegetasi, animalitas, demografi  
                                         antrografi
-    infrastruktur (prasarana : perhubungan, badan-badan
                                                   pelayanan masyarakat
     Tingkat B : produksi dan sunberdaya : tanaman pangan, peternakan, perikanan, ekspor dan impor pangan, cadangan pangan, bahan bakar (energi)
     Tingkat  C :  pendapatan dan konsumsi : pasar, lapangan kerja, pendapatan, konsumsi pangan termasuk kuantitas dan kualitasnya
     Tingkat  D :  status kesehatan: status gizi, pola penyakit
Indikator dini  (early indicators) adalah petunjuk untuk mulai bersiap-siap melakukan mobilisasi, yang termasuk di dalammya indikator tingkat A. Indikator kini ( concurrent indikator) yaitu memberi petunjuk mulai perlunya dilakukan tindakan segera, yang termasuk didalamya indikator tingkat B. Indikator terlambat (late indicators) merupakan hasil intervensi sebelumnya, adalah indikator tingkat C dan tingkat D. Tabel berikut menyajikan contoh keterkaitan antara indikator dengan intervensi dalam SIDI.
            Tabel.     Contoh Kaitan Indikator dengan Intervensi    
Contoh indikator untuk memenuhi setiap intervensi
Contoh intervensi
Indikator Dini                      Indikator Kini
Curah hujan rendah              pertumbuhan tanaman
Pada masa tanam rawan     terganggu  
air
Produksi turun atau              pembelian pangan turun        
Pendapatan turun    
Konsumsi pangan turun       prevalensi gizi kurang
                                               naik                                                                    
Penyediaan air untuk tanaman

Padat karya/penyediaan lapangan kerja
Distribusi pangan
C. INDIKATOR PSG (PEMANTAUAN STATUS GIZI) DAN PKG (PEMANTAUAN  KONSUMSI GIZI)    
     BAYI DENGAN BERAT LAHIR RENDAH
     Definisi : berat badan lahir rendah adalah berat badan bayi lahir hidup di bawah 2500
                     gram yang ditimbang pada saat lahir.
     Kegunaan:
a.       Untuk screening (penapisan) individu
- Indicator             : berat badan lahir (BBL)
- Cut-off                : BBL < 2500 gr
      - Sumber data        : bidan desa atau dukun terlatih (laporan kohort bayi)
      - Frekuensi            : setiap ada bayi lahir  
      - Tujuan                 : penapisan bayi untuk diberi perawatan
      - Pengguna            : Puskesmas
b. Untuk gambaran perkembangann keadaan gizi dan kesehatan ibu dan anak tingkat kecamatan   
   - Indikator            : prevalensi bayi BBLR dalam periode 1 tahun dari  jumlah bayi lahir hidup
   - Trigger level              : prevalensi BBLR > 15%
               - Sumber data              : Puskesmas
                                                     ( kompilasi laporan kohort bayi BBLR dalam periode 1 tahun dari puskesmas –puskesmas di kecamatan yang bersangkutan)         
              - Frekuensi                   : sekali setahun (dihitung pada tengah tahun)
              - Tujuan               : evaluasi perkembangan keadaan gizi dan kesehatan masyarakat, terutama ibu dan anak     
              - Pengguna                   : kecamatan
           c. Untuk gambaran perkembangan  keadaan gizi dan kesehatan ibu dan anak antar kecamatan dalam kabupaten
                - Indikator                  : prevalensi bayi BBLR dalam periode 1 tahun dari jumlah bayi lahir hidup  
                - Trigger level             : prevalensi BBLR > 15%
                - Sumber  data            : kecamatan (kompilasi laporan kohort bayi BBLR dalam periode 1 tahun dari kecamatan-kecamatan di kabupaten bersangkutan)
               - Frekuensi                  : sekali setahun (dihitung pada tengah tahun)
               - Tujuan                       : evaluasi perkembangan keadaan gizi dan kesehatan masyarakat, terutama ibu dan anak
               - Pengguna                  : kabupaten dan propinsi
           d.  Untuk gambaran perkembangan keadaan gizi dan kesehatan ibu dan anak tingkat nasional
                 - Indikator              : prevalensi BBLR dalam periode tertentu
                 - Trigger level         : prevalensi BBLR > 15%
                 - Sumber data         : Tim Surkesnas (Badan Litbangkes + BPS)
                 - Frekuensi             : Sekali dalam 3 tahun
                 - Tujuan         : evaluasi perkembangan keadaan gizi dan kesehatan masyarakat, terutama ibu dan anak secara nasional
                 - Pengguna             : primer/pusat
                       
  1. MASALAH GANGGUAN PERTUMBUHAN BALITA
Definisi : gangguan pertumbuhan bila BGM atau tiga kali penimbangan bulanan tidak naik berat badan   
Kegunaan :
a.       Screening individu balitan untuk rujukan/perawatan/treatmen
- Indikator             : pertumbuhan berat badan (SKDN)
- Cut-off                : 1. BGM (BB/U < -3SD)
                                2. 3T (3 kali penimbangan tidak naik BB)
- Sumber data        : Posyandu (penimbangan bulanan)
- Frekuensi            : sekali setahun
- Tujuan                : Sreening balita yang memerlukan tindakan rujukan atau intervensi khusus (pengobatan dan atau PMT pemulihan)  
- Pengguna            : Puskesmas
    
         b. Gambaran keadaan pertumbuhan balita tingkat kecamatan
-  Indikator               : 1. %N/(D-O-B) dengan kondisi (D?S > = 80%). Bila  D/S belum >= 80% upayakan untuk ditingkatkan
                                   2. % BGM/D
- Trigger level           : 1. % N/(D-O-B) < 60%
                                   2. %BGM>1%
- Sumber data           : Puskesmas (kompilasi laporan SKDN dari Puskesmas yang ada di wilayah kecamatan yang bersangkutan)
- Frekuensi               : sekali sebulan
- Tujuan                    : evaluasi keadaan pertumbuhan balita untuk tindakan preventif terhadap memburuknya keadaan gizi
- Pengguna               : kecamatan
               c. Gambaran keadaan pertumbuhan balita antar kecamatan dalam kabupaten
                   - Indikator                        : 1. % N/(D-O-B) dengan kondisi (D/S >=80%). Bila
                                                     D/S belum >=80% upayakan untuk ditingkatkan
                                            2.  % BGM/D
             - Trigger level       : 1. %N/(D-O-B)<60%
                                            2. %BGM>1%
              - Sumber data      : kecamatan (kompilasi laporan SKDN dari kecamatan  
                                            yang ada di wilayah kabupaten tersebut)
           - Frekuensi             : sekali sebulan
           - Tujuan                  : evaluasi keadaan pertumbuhan balita untuk tindakan
                                            Preventif terhadap memburuknya keadaan gizi
           - Pengguna             : kabupaten dan propinsi

  1. MASALAH KEP BALITA
Definisi : Gizi kurang bila BB/U<-2 SD dan Gizi buruk bila BB/U<-3 SD.
Kegunaan :
a.       Screening individu balita untuk rujukan/perawatan/treatment
- Indikator             : BB/U
- Cut-off                : BB/U<-2 SD (gizi kurang) dan BB/U
- Sumber data    : Puskesmas (Pelacakan gizi buruk, kunjungan pasien   dan opsional kegiatan bulan penimbangan )
- Frekuensi            : setiap ditemukan kasus (setiap saat)
- Tujuan         : Rujukan atau memberika treatment khusus bagi penderita sesuai dengan “grade” kurang gizinya.
- Pengguna               :  Puskesmas
      b. Memberikan gambaran perkembangan keadaan gizi balita di kecamatan2                 dalam kabupaten
- Indikator             : Prevalensi gizi kurang dan gizi buruk
- Trigger level        : 1. Prevalensi gizi kurang >20%, atau
                                      2. Prevalensi gizi buruk >1%
- Sumber data        : Pemantauan Status Gizi (PSG)
- Frekuensi            : Sekali setahun
- Tujuan                 : Evaluasi perkembangan keadaan gizi balita untuk
                                perencanaan program dan pengambilan kebijakan
   - Pengguna         : Kabupaten, Propinsi dan Pusat

c. Memberikan gambaran perkembangan keadaan gizi balita tingkat Propinsi dan Nasional
- Indikator             : Prevalensi gizi kurang dan gizi buruk
- Trigger level        : 1. Prevalensi gizi kurang >20%, atau
                                      2. Prevalensi gizi buruk >1%
- Sumber data        : Surkesnas
- Frekuensi            : Sekali dsalam tiga tahun
- Tujuan                    : Evaluasi perkembangan keadaan gizi balita untuk perencanaan program dan perumusan kebijakan di tingkat Nasional
    - Pengguna           : Pusat
4. MASALAH GANGGUAN PERTUMBUHAN ANAK USIA MASUK SEKOLAH
     Definisi: Gangguan pertumbuhan anak usia masuk sekolah adalah pencapaian tinggi
                    badan anak baru masuk sekolah (TBABS)
Kegunaan :  a). Refleksi keadaan gizi masyarakat
                      b). Gambaran keadaan sosial ekonomi masyarakat
                      c). Gambaran efektivitas upaya perbaikan gizi masa balita
        - Indikato                        : Prevalensi pendek (TB/U<-2 SD
        - Trigger level      : Prevalensi pendek >20%
        - Sumber data      : Pemantauan TBABS-DepKes Kesos
        - Frekuensi          : Sekali dalam 5 tahun
         - Tujuan              : Evaluasi perkembangan keadaan gizi masyarakat, keadaan social ekonomi masyarakat dan efektivitas upaya perbaikan keadaan gizi masa balita.
         - Pengguna        : Kabupaten, Propinsi dan Pusat.

5.            MASALAH KEK DAN RESIKO KEK WANITA USIA SUBUR (WUS) USIA 15- 45 TAHUN DAN IBU HAMIL
         Definisi : 1. KEK ibu hamil : LILA<23,5 cm
                         2. KEK WUS : IMT< 18,5
                         3. Resiko KEK WUS : LILA<23,5 cm
         Kegunaan :
          a. Screening ibu hamil yang memiliki resiko BBLR untuk diberikan treatment         (penyuluhan)
               - Indikator                : Lingkar lengan atas
               - Cut-off                   : LILA < 23,5 cm
               - Sumber data           : Kohort ibu hamil- Bidan Desa- Puskesmas
               - Frekuensi               : Setiap ditemukan ibu hamil (setiap saat)
                - Tujuan                   : Screening ibu hamil KEK untuk diberikan penyuluhan
                                                  dan   intervensi (PMT ibu hamil)
                - Pengguna              : Puskesmas
           b. Memberikan gambaran perkembangan status gizi WUS.
               - Indikator                : 1. KEK : Indeks massa tubuh (IMT)
                                                  2. Resiko KEK : Lingkar lengan atas (LILA)
                 - Cut-off                 : 1. KEK : IMT<18,5
                                      2. Resiko KEK : LILA<23,5 cm
                 - Sumber data    : Survei cepat dan surkesnas (KEK WUS) dan Susenas   
                                               (Resiko  KEK)
                  - Frekuensi         : Sekali dalam 3 tahun
                  - Tujuan              : Evaluasi perkembangan keadaan gizi kelompok wanita usia
                                                Subur (WUS)
                  - Pengguna         : Resiko KEK : Propinsi dan Pusat
                                               KEK WUS :  Pusat

6.               MASALAH GAKY (GANGGUAN AKIBAT KEKURANGAN YODIUM)
             Definisi GAKY : Defisiensi yodium
             Kegunaan : Memberikan gambaran besar dan sebaran masalah GAKY
             - Indikator      : 1. Prevalensi GAKY (Total Goiter Rate = TGR) anak
                                           sekolah)
                                      2. Eksresi Yodium Urine (EYU) pada anak sekolah
            - Trigger level  : 1. TGR>5%
                                      2. EYU 100 mcg/dl>50%
                                      3. Konsumsi garam beryodium (>=30ppm)<80% rumah tangga
           - Sumber data   : 1. TGR dann EYU : Survei nasional pemetaan
                                         2.Konsumsi garam beryodium : Susenas dan monitoring        garam   beryodium oleh Kabupaten
           - Frekuensi       : TGR dan EYU : Sekali 5 tahun
                                        Konsumsi garam beryodium : Sekali 3 tahun (Susenas) dan
                                                                                            sekali setahun (monitoring
                                                                                            oleh kabupaten)
            -  Tujuan            : Memberikan gambaran tentang masalah GAKY untuk manajemen program perbaikan GAKY (distribusi kapsul dan garam beryodium).
         - Pengguna         : Kabupaten-Propinsi-Pusat


7.   MASALAH KVA (KURANG VITAMIN A)
      Definisi :      Defisiensi vitamin A
      Kegunaan :
  a. Screening kasus Xerophtamia untuk perawatan
      - Indikator             : kasus Xerophtalmia
      - Trigger level       : Setiap ada kasus
      - Sumber data      : Laporan kasus Puskesmas dan RS setempat
      - Frekuensi            : Setiap ada kasus (setiap saat)
     -. Tujuan                : Tindakan cepat penanganan masalah Xerophtalmia
     -  Pengguna            : Kabupaten- Propinsi- Pusat
 b. Untuk memberikan gambaran perkembangan masalah KVA
    - Indikator   : Prevalensi XiB dan Prev.Serum Retinol <20 mcg/dl
   - Trigger level: 1. Prev X1B>0,5%
                            2. Prev. Serum retinol (<20mcg/dl)>0,5%
    - Sumber data : Survei Vitamin A (SUVITA) – DepKes Kesos
    - Frekuensi : Sekali dalam 10 tahun
    - Pengguna : Propinsi dan Pusat

8.  MASALAH KONSUMSI GIZI
      Definisi     : Masalah defisiensi Intake Makro dan Mikro nutrient di masyarakat.
      Kegunaan : Memberikan gambaran perkembangan konsumsi makro dan mikronutrien    
                          serta pola konsumsi masyarakat.
      - Indikator             : Prevalensi deficit energi dan protein serta zat gizi mikro (Vit.A, zat  
                          Besi, Calsium dan Vitamin B1)
     - Trigger level: 1. Prev. rumah tangga dengan konsumsi energi (<70%RDA) > 30%
                              2. Prev.rumah tangga dengan konsumsi protein (<70%RDA) > 30%
                               3. Lainnya dengan melihat besaran dan perkembangan dari waktu ke
                                  waktu
     - Sumber data  : Pemantauan Konsumsi Gizi (PKG) Depkes Kesos
     -  Frekuensi        : Sekali dalam 3 tahun
      
        - Tujuan         : Evaluasi perkembangan masalah dan untuk analisa factor-faktor    
                                  yang  berkaitan, dan juga memberikan masukan bagi instansi yang  
                                  berhubungan dengan ketersediaan pangan.
        - Pengguna     : Kabupaten- Propinsi- Pusat

9.  MASALAH ANEMIA GIZI
     Definisi : Defisiensi zat besi yang diindikasikan dengan kadar Hb darah < 11mg%   
                     (wanita hamil), atau <12mg pada wanita tidak hamil
      Kegunaan : Memberikan gambaran perkembangan masalah anemia dan besarannya
    - Indikator   : 1). Prevalensi anemia pada bayi
                          2). Prevalensi anemia balita
                          3). Prevalensi anemia pada ibu hamil/ibu nifas
                          4). Prevalensi anemia pada WUS
                          5). Prevalensi anemia pada lansia
                          6). Prevalensi anemia pada Nakerwan
    - Trigger level: Belum ada ketentuan
    - Sumber data : Badan Litbang Kes (+BPS), Surkesnas
    -  Frekuensi : Sekali dalam 3 tahun
     - Tujuan    : Evaluasi perkembangan masalah anemia gizi untuk perencanaan program,
                         perumusan kebijakan penanganannya
    -   Pengguna:  Pusat

10.  GIZI DARURAT
 Definisi:   Keadaan darurat yang dimaksud adalah situasi yang terjadi akibat konflik politik, bencana alam atau konflik lainnya yang mengakibatkan banyak penduduk keluar dari daerah tempat tinggalnya dan tinggal pada lokasi baru (tempat pengungsian)
Kegunaan : Memberikan masukan dalam kaitannya dengan penanganan pangan dan gizi dalam keadaan darurat.
         - Indikator:  Prevalensi wasting (BB/TB)
- Trigger level:  Prevalensi BB/TB (<-2SD)>15%, atau antara 10-15% dengan angka kematian kasar 1/10.000, atau angka kematian gizi buruk>1%
          - Sumber data : Survei cepat dan monitoring keadaan gizi di lokasi darurat oleh propinsi ddan pusat (international agency)
          -. Frekuensi      : 1. Survei cepat, sekali saat terjadi pengungsian
                                      2. Monitoring, tergantung kebutuhan (sekali dalam 3 bulan atau
                                          sekali dalam 6 bulan)
          - Tujuan            : Manajemen penanganan masalah gizi pada situasi darurat
          - Pengguna        : Kabupaten-Propinsi- Pusat International Agency-LSM

11. MASALAH GIZI LEBIH ORANG DEWASA
      Definisi     : gizi lebih adalah mulai dari overweight sampai dengan obese
 Kegunaan : Memberikan gambaran kecenderungan masalah gizi lebih terutama di daerah perkotaan.
    - Indikator               : Prevalensi IMT>25
    - Trigger level          : Prevalensi IMT (IMT>25)>10%
    - Sumber data          : Survei cepat IMT Depkes dan Kesos
    - Frekuensi              : Sekali dalam 3 tahun
     - Tujuan                  : Manajemen penanganan masalah gizi lebih pada orang
                                      dewasa
     - Pengguna             : Propinsi- Pusat

12. MASALAH PEMBERIAN ASI EKSKLUSIF DAN MP-ASI
       Definisi : 1. ASI Eksklusif adalah pemberian ASI saja pada bayi sampai usia 4 bulan.
                 2. MP-ASI adalah makanan tambahan dalam bentuk lunak maupun bentuk makanan dewasa selain ASI sampai anak usia 24 bulan.
       Kegunaan :
      a. Memberikan gambaran tentang perkembangan praktek pemberian ASI eksklusif
          - Indikator          : Proporsi ibu memiliki bayi usia 4 bulan yang hanya  memberikan ASI (ASI Eksklusif)
         - Trigger level     : Proporsi ASI Eksklusif tidak menurun
         - Sumber data     : Badan Litbangkes (+BPS)--Surkesnas
         - Frekuensi         : Sekali dalam 3 tahun
         - Tujuan        : Manajemen penyuluhan dalam rangka peningkatan praktek pemberian ASI Eksklusif
         - Pengguna         : Propinsi- Pusat
b. Penyuluhan individu ibu yang memiliki anak usia 4 bulan ke bawah agar memberikan ASI Eksklusif
         - Indikator          : Ibu yang memiliki anak usia 4 bulan ke bawah
         - Trigger level     : Tidak memberikan ASI Eksklusif
         - Sumber data     : Kohort bayi- Bidan Desa/Kader Posyandu
         - Frekuensi         : Setiap ada ibu yang memiliki bayi 4 bulan ke bawah
         - Tujuan              : Tindakan penyuluhan agar memberikan ASI Eksklusif
         - Pengguna         : Puskesmas


RANGKUMAN
-          Indikator merupakan suatu alat yang dipaki untuk mengamati dan mendapatkan informasi. Nilai suatu indikator harus seimbang dengan pertimbangan praktis tertentu, yaitu :
      a. mudahnya pengukuran
      b. kecepatan dan frekuensi tersedianya data
      c. biaya
-     Jenis-jenis indikator dalam surveilans gizi :
       a. indikator SKPG
       b. indikator SIDI
       c. indikator PSG dan PKG 




SKPG (SISTEM  KEWASPADAAN PANGAN DAN GIZI)\
SKPG atau dalam bahasa Inggrisnya “Food and Nutrition Surveillance System” adalah kegiatan  pengamatan  terhadap Situasi Pangan dan Gizi penduduk yang dilakukan secara terus menerus. Tujuan pelaksanaan SKPG adalah untuk menyediakan informasi tentang  perkembangan Situasi Pangan dan Gizi  Penduduk secara terus menerus, baik dalam keadaan NORMAL maupun KRISIS guna perumusan kebijakan, perencanaan
dan evaluasi program baik jangka panjang maupun jangka pendek,  pengambilan Keputusan ataupun Tindakan Penanganan Masalah Krisis  Pangan dan Gizi .
SKPG dikembangkan dan dilaksanakan di Indonesia sejak Tahun 1979 yang dimulai di Kabupaten Lombok Tengah, NTB, dan Boyolali, Jawa Tengah. Kemudian dikembangkan lebih lanjut oleh Direktorat Bina Gizi Masyarakat, Kementerian Kesehatan Propinsi-
Propinsi lainnya.

Manfaat Informasi SKPG
.

1.Pemetaan Situasi Pangan dan Gizi:
    -  Prevalensi KEP
    -  % Kerusakan
    -  % Keluarga Miskin
2. Peramalan
    -  Produksi Pangan
    -   % LT/LL
    -   %LK/LT
    -   %LP/LT
    -   Produksi
    -   Harga pangan
  3. Pengamatan
    - Perubahan konsumsi pangan
    - BGM, N/D, 3T
    - Indikator Lokal
    - Kasus Gizi Buruk
   
LATIHAN DAN TUGAS   
Mahasiswa dibagi menjadi 5 Kelompok untuk membahas 4 masalah gizi utama dalam skenario di bawah ini.
Mahasiswa diminta membuat kata kunci dan pertanyaan-pertanyaan untuk dijawab berdasarkan teori yang ada.
Hasil diskusi kelompok akan dipresentasikan di depan kelas untuk memperoleh masukan demi kesempurnaan makalah kelompok.

SKENARIO
1.Judul:    Malnutrisi pada Balita 
   Skenario
  Seorang anak balita bernama Fatah (laki-laki) berumur 3 tahun 7 bulan, anak ke-7 dari 9 bersaudara, bulan lalu Fatah memiliki berat badan (BB) 8,8 Kg. Ayah Fatah tidak memiliki pekerjaan yang tetap dan penghasilannya sebulan kurang dari 1 juta rupiah/bulan sedangkan ibunya adalah penjaga warung makan.  Jumlah anak yang masih sekolah ada 3 orang. Karena keadaan soaial ekonomi yang rendah, keluarga Fatah tidak mampu memiliki rumah yang ukurannya sesuai dengan ukuran anggota keluarganya. Fatah sering kali menderita ISPA seperti batuk dan pilek, tidak mendapatkan ASI eksklusif dan kini fatah lebih suka mengonsumsi jajanan yang rendah akan zat gizi. 

2. Judul                      : Gondok Endemik
    Skenario         :
Di suatu daerah yang terisolir di wilayah pegunungan, terdapat sebuah keluarga miskin bernama Keluarga Sanusi. Untuk menjangkau daerah ini sangat sulit karena jalan yang buruk belum diaspal, tidak ada sarana transportasi, dan belum masuk listrik.
Keluarga Sanusi memiliki 5 anak balita dengan anak pertama Andi berusia 5 tahun, anak kedua Ani usia 3 tahun, dan Sarui si bungsu berusia 6 bulan. Bapak dan Ibu Sanusi berprofesi sebagai buruh tani. Tiap pagi Andi sarapan dua potong singkong atau ubi jalar dengan kelapa, sementara untuk makan siang dan malam hanya makan sedikit nasi dengan tempe atau tahu atau sayur daun singkong atau tumis kubis sehingga Andi tampak kurus dan pendek, serta dilehernya teraba pembesaran kelenjar. Bapak dan Ibu Sanusi juga memiliki pembesaran kelenjar di bagian leher yang terlihat cukup jelas dari jarak 1 meter. Puskesmas setempat telah mendistribusikan kapsul yodium dan minyak lipiodol bagi masyarakat di sana, tetapi jumlah penduduk yang mengalami pembesaran kelenajr gondok tetap meningkat. Bahkan ada ibu yang memiliki anak balita sangat pendek.   

3. Judul                      :  Obesitas dengan PJK dan Diabetes Mellitus (DM)
    Skenario         :
    Sita adalah anak keluarga berada yang hidup di kota besar dengan lingkungan materi sangat mendukung. Masa kecilnya dilalui dengan penuh kegembiraan. Semua yang diinginkan dapat diperolehnya dengan mudah. Fast food, ice cream, dan makanan yang berlemak adalah kesukaannya hingga berat badannya makain lama makin bertambah. Sita mulai merasa tubuhnya makin lama makin gemuk ketika masa remaja akhir, dan pada kenyataannya saat remaja dan menginjak usia dewasa muda dia berada pada status gizi lebih. Semua itu membuat dirinya tidak percaya diri. Demikian pula ibu dan adiknya Andi usia 3 tahun yang juga memiliki masalah kelebihan berat badan. Ibunya lebih banyak menghabsikan waktu dengan meointon TV seharian, tidur siang, mengobrol dengan tetangga. Andi tidak suka makan sayur dan buah, tetapi lebih suka makan mie instan, goreng-gorengan, bermain PS 2 berjam-jam di dalam kamar ber-AC.  Baru-baru ini ibunya mengeluh sering merasa sesak napas, dada berdebar-debar, pusing kepala, dan tekanan darahnya tinggi. Andi juga memiliki keluhan seperti sering buang air kecil, selalu merasa lapar dan haus, tiba-tiba berat badannya menurun drastis, kadang-kadang matanya saat melihat sesuatu terasa kabur, dan tiba-tiba badannya sering gatal-gatal.     

4. Judul                      :  Kurang Energi Kronik (KEK) Ibu Hamil
    Skenario         :
    Ibu Indah sedang mengandung anak keempat dengan usia kehamilan menginjak 7 bulan.Sehari-harinya lebih banyak mengonsumsi nasi dengan ikan asin dan kecap manis atau kerupuk. Kadang-kadang dia beli bakso atau goreng-gorengan bilasedikit merasa lapar. Setiap hari dia menghabiskan waktunya untuk membantu suaminya menanam padi di sawah sebanyak  sejak pukul 7 pagi hingga 4 sore. Sepulang di rumah dia harus mengerjakan pekerjaan RT seperti menyapu, mengepel, memasak, mencuci, menyeterika, dan mengasuh dua anak-anaknya usia 1,5 tahun dan 6 bulan. Saat ini berat badan Ibu Indah hanya 39 kg dengan tinggi badan 145 cm dan lingkar lengan 18 cm. Wajahnya terlihat pucat dan perutnya tampak buncit oleh kehamilannya itu. Dia tidak mampu membeli makanan bergizi karena suaminya hanya seorang tukang becak dengan pendapatan harian tidak menentu. Sebagian besar ibu hamil di tempat tinggalnya berperilaku sama dengan Ibu Indah dalam hal pola makan dan melakukan aktivitas fisik harian. Petugas gizi puskesmas dan kader posyandu telah berkali-kali melakukan program PMT bagi ibu hamil, namun maslaah gizi ibu hamil selalu muncul di sana.     



5. Judul                      :  Anemia Remaja Puteri
    Skenario         :
Rina seorang gadis usia 16 tahun dari keluarga berada yang selalu menjaga pola makan rendah lemak dan kolesterol. Sehari-hari dia makan nasi satu kali 3 sendok makan di siang hari dengan lauk bakso, tahu, atau kerupuk. Dia memang tidak suka sayur dan buah, dan cenderung menghindari makanan sumber protein hewani karena takut gemuk. Bila terpaksa harus makan nasi dalam jumlah besar atau mengonsumsi makanan sumber protein hewani (ikan, daging, ayam, telur), maka akan dimuntahkannya kembali karena takut gemuk. Dia angat menjaga citra tubuh dirinya sehingga melakukan pola diet ketat. Beberapa hari ini dia mengeluh sering pusing, mata berkunang-kunang, sering mengantuk di sekolah, suka lupa meletakkan barang atau memeuhi janji dengan seseorang, sering merasa lelah, dan kurang bersemangat melakukan kegiatan sehari-hari. Akibatnya perstasi belajarnya di sekolah menurun drastis, sering izin karena sakit, atau sering berada di ruang P3K dengan alasan pusing dan badan terasa amat lemah.



BAB  IV
Pertemuan
ke-
Kompetensi/Subkompetensi
Tahap Pemelajaran
Pokok
Bahasan/
SPB
Pengalaman
Belajar /
Tgs-latihan
Media
Tekno-
logi
Asesmen
Kriteria Penilaian (Indikator)
Penanggung
jawab
O
(%)
L
(%)
U
(%)
1.










2.










3.










4.
































                                                                                     MATRIKS  KEGIATAN

BAB V
RANCANGAN  TUGAS  LATIHAN
Tujuan Tugas (Kemampuan akhir yang diharapkan)
Uraian Tugas
Obyek garapan
Batasan yang harus dikerjakan
Cara pengerjaan
Batas waktu penyerahan tugas
Deskripsi luaran tugas yang dihasilkan

Kriteria Penilaian




BAB  VI
EVALUASI   HASIL  PEMELAJARAN
Kisi-kisi  Tes
BENTUK
INSTRUMEN
            FREKUENSI
BOBOT (%)
Makalah/Presentasi
Lembar penilaian
3
15
Kuis
Tes
2
10
Tugas Besar/ Proyek
Lembar Penilaian
1
25
UTS
Soal ujian
1
25
UAS
Soal ujian
1
25
Total


100

Kisi-Kisi Ujian Tulis/non tulisan (UTS dan UAS)
Kompetensi/subkompetensi
Jenis Tes
Jumlah soal
Ranah & tk derajatnya
(3 ketramp)
Bobot


























Keterangan :
Jenis tes :
O : Obyektif/Pilihan Ganda
E : Esai
P : Proyek/Assignment



TIM MODUL:
Penanggung jawab pelaksana pembelajaran harian (Person in Charge/PiC):
  1. DR. Fatmah
  2. DR. Ratu Ayu Dewi Sartika

-          Sarana : Jumlah mahasiswa kelas Bidan Komunitas 100 orang, dibagi dalam 10 kelompok
-          Prasarana
  1. Ruang kuliah: kelas Bidkom: 1 ruang kuliah besar dengan fasilitas memadai dan cukup untuk menampung satu angkatan (100 mahasiswa); dan 2 ruang kuliah besar untuk sesi pleno.
  2. Ruang diskusi kelompok: 10 ruang diskusi kelompok yang dapat menampung 8-12 mahasiswa
  3. Ruang/laboratorium komputer (JIKA DIPERLUKAN)
  4. Perpustakaan

EVALUASI
Ditentukan berdasarkan proses dan hasil pendidikan mahasiswa.
(Kriteria awal untuk mengikuti ujian (Prerequisite): setiap mahasiswa wajib mengikuti 75% kegiatan diskusi kelompok,kegiatan praktikum (JIKA ADA) dan pleno)

-          40% penilaian proses t.d: (observasi diskusi kelompok          25% dan laporan kelompok 15%)                  
-          Kriteria kelulusan: nilai perhitungan akhir berdasarkan pembobotan di atas minimal 55 (C)
-          Apabila nilai evaluasi knowledge-based kurang dari 55, maka wajib mengikuti program perbaikan nilai/remedial.  Program perbaikan nilai (remedial) tersebut dilaksanakan 1 (satu) kali, yang diselenggarakan pada periode remedial (januari).
2.  Evaluasi Program Pendidikan (EPP)
Evaluasi Program
90% mahasiswa lulus dengan nilai  minimal B minus dan rata-rata  3.0
Evaluasi Proses Program
Semua kegiatan berlangsung sesuai waktu dan rencana
Perubahan jadwal, waktu dan kegiatan tidak lebih dari 10%.
Setiap kegiatan dihadiri minimal 90% mahasiswa, tutor, narasumber, fasilitator.




1 komentar:

  1. utk gambaran keadaan pertmbhn blita itu indktornya %N/(D-O-B) dan %bgm/D atau ckp bgm/D saja? Mhn djwb. Pntg

    BalasHapus