Rabu, 13 April 2011

Sistem Informasi Kesehatan

subsistem,termasuk subsistem manajemen kesehatan.
Dalam subsistem tersebut,sistem informasi kesehatan menempati posisi yang cukup penting karena berfungsi  sebagai tulang punggung untuk mengumpulkan data,mengirimkan,mengelolah dan menganalisis serta mepublikasikan informasi sekaligus memberikan umpan balik kepada stakeholder di semua tingkatan.Ketersediaan data dan informasi yang akurat,terjangkau dan tepat waktu merupakan syarat m,utlak pengambilan keputusan manajemen ( evidencebased decision making ) untuk  mendukung upaya pencapaian tujuan SKN.
Menurut rencana Pembangunan jangka Menengah Nasional ( RPJMN ) periode tahun 2005 – 2009 ,arah kebijakan peningkatan kemapuan ilmu pengetahuan dan tehnologi di fokuskan pada enam bidang prioritas yaitu :
1.      Pembangunan ketahanan pangan
2.      Penciptaan dan pemanfaatan sumber energi baru dan terbarukan
3.      Pengembangan tehnologi dan manajemen transportasi
4.      Pengembangan teknologi informasi dan komunikasi
5.      Pengembangan teknologi pertahanan dan
6.      Pengembangan teknologi kesehatan dan obat obatan
Sistem Informasi Kesehatan
Suatu sistem informasi terdiri dari data,manusia dan proses serta kombinasi perangkat keras,perangkat lunak dan teknologi komunikasi .Penggunaan informasi terdiri dari 3 tahap yaitu pemasukan data,pemrosesan,dan pengeluaran informan.20
Sistem informasi kesehatan (SIK) merupakan subsistem dari Sistem Kesehatan Nasional (SKN) yang berperan dalam memberikan informasi untuk pengambilan keputusan di setiap jenjang administrasi kesehatan baik di tingkat pusat, propinsi, kabupaten/kota atau bahkan pada tingkat
pelaksana teknis seperti rumah sakit ataupun puskesmas.
Dalam bidang kesehatan telah banyak dikembangkan bentuk-bentuk system informasi kesehatan (SIK). Tujuan dikembangkannya berbagai bentuk SIK tersebut adalah agar dapat mentransformasi data yang tersedia melalui sistem pencatatan rutin maupun non rutin menjadi sebuah informasi yang adequate untuk membantu pengambilan keputusan di bidang kesehatan.

RUANG LINGKUP SIK
Terdiri dari Pengelolahan Informasi  dan struktur manajemen SIK,antara lain :
a.       Pengumpulan data
b.      Pengiriman data
c.       Pengolahan data
d.      Analisis data
e.       Presentasi informasi untuk perencanaan dan manajemen.

Konsep Dasar
Sistem
Definisi sistem berbeda-beda, tetapi meskipun definisi bervariasi, mempunyai beberapa persyaratan umum, yaitu sistem harus mempunyai komponen, lingkungan, interaksi antar komponen, interaksi antara komponen dengan lingkungannya, dan harus mempunyai tujuan yang aka Terdapat beberapa definisi sistem yaitu :
Gordon B. Davis ( 1984 ) :
“Sebuah sistem terdiri dari bagian-bagian yang saling berkaitan yang beroperasi bersama untuk mencapai beberapa sasaran atau maksud “. Raymond Mcleod (2001) :
“Sistem adalah himpunan dari unsur-unsur yang saling berkaitan sehingga membentuk suatu kesatuan yang utuh dan terpadu“.

Sebuah sistem memiliki karakteristik tertentu, yaitu sebagai berikut:
1. Memiliki sasaran atau tujuan
Suatu sistem harus mempunyai tujuan atau sasaran. Kalau suatu system tidak mempunyai sasaran, maka berjalanya sistem tidak akan ada gunanya. Sasaran dari sistem sangat menentukan sekali masukan yang dibutuhkan sistem dan keluaran yang akan dihasilkan sistem. Suatu sistem dikatakan berhasil bila mengenai sasaran atau tujuannya.

2. Berjenjang
 Elemen-elemen yang lebih kecil yang disebut sub sistem, misalkan sistem puskesmas terdiri dari sub sistem pelayanan, pendaftaran, rekam medis, apotik, dan sebagainya.
 Elemen-elemen yang lebih besar yang disebut supra sistem.
Misalkan supra sistem dari sub sistem di atas system pelayanan kesehatan.
3. Adanya unsur-unsur fungsional dan saling berhubungan secara teratur
Sebuah system memiliki komponen-komponen yang masing-masing memiliki fungsi dan komponen saling terkait serta berjalan secara sistematis dan teratur.

Di dalam suatu organisasi atau institusi kesehatan, informasi memiliki arti yang sangat penting di dalam mendukung proses pengambilan keputusan. Beberapa definsi mengenai informasi antara lain:
Raymond Mcleod (2001) : “Informasi adalah data yang telah diolah menjadi bentuk yang
memiliki arti bagi si penerima dan bermanfaat bagi pengambilan keputusan saat ini atau mendatang”
Secara umum informasi didefinisikan sebagai hasil pengolahan data dalam bentuk yang lebih berarti bagi penerimanya untuk pengambilan keputusan. Sumber dari informasi adalah data yang diolah melalui suatu proses yang digunakan oleh penerima untuk pengambilan keputusan sebagai dasar melakukan tindakan.
Ketersediaan informasi yang tepat, cepat dan relevan sangat diperlukan. Untuk mendapatkan informasi yang diinginkan tersebut harus menggunakan sistem informasi. Sistem informasi dalam suatu organisasi termasuk institusi kesehatan dapat dikatakan sebagai suatu sistem yang
menyediakan informasi bagi semua tingkatan dalam organisasi tersebut kapan saja diperlukan. Sistem informasi ini berfungsi mengumpulkan, mengolah, menganalisis dan mengkomunikasikan informasi yang diterima. Menurut Mc leod (2001), sistem informasi didefinisikan:
“Sistem Informasi merupakan sistem yang mempunyai kemampuan untuk mengumpulkan informasi dari semua sumber dan menggunakan berbagai media untuk menampilkan informasi“

Sistem informasi harus mempunyai beberapa sifat seperti :
1. Efektif. Hal ini berhubungan dengan pemrosesan terhadap data yang masuk, pemakaian perangkat keras dan perangkat lunak yang sesuai termasuk keamanan dan kelengkapan data.
2. Keluwesan. Sistem informasi hendaknya mampu beradaptasi kemampuan lingkungan (fleksibilitas)
3. Kepuasan pemakai. Hal yang paling penting adalah pemakai mengetahui dan puas terhadap sistem informasi (bermanfaat).

Komponen Sistem Informasi
Sistem informasi mempunyai enam buah komponen, yaitu :
1. Komponen input atau masukan
Input dalam sistem informasi adalah data termasuk masukan yang terlibat dalam mengolah data seperti instrument, prosedur standar, perangkat lunak, dan lain-lain.
2. Komponen proses
Tahapan yang dilakukan untuk mengubah data menjadi informasi (transformasi), seperti pemasukan, pengolahan, analisa data.
3. Komponen output atau keluaran
Keluaran dari sistem informasi adalah infomasi yang berkualitas yang berguna untuk semua tingkatan manajemen dan semua pemakai sistem
4. Komponen pengendalian (control) dan umpan balik (Feedback)
Mekanisme pengendalian (control mechanism) diwujudkan dengan menggunakan umpan balik (feedback) yang berdasarkan keluaran. Umpan balik ini digunakan untuk mengendalikan komponen agar system berjalan sesuai dengan tujuan, misalnya aturan/regulasi/SOP/waskat (pengawasan melekat).
5. Komponen lingkungan (environment)
Segala sesuatu yang berada di luar system. Lingkungan dapat berpengaruh terhadap operasi system dapat bersifat merugikan dan menguntungkan.

Kelima komponen ini harus ada bersama-sama dan membentuk satu kesatuan. Jika satu atau lebih komponen tersebut tidak ada, maka sistem informasi tidak akan dapat melakukan fungsinya, yaitu menghasilkan informasi yang relevan, tepat waktu dan akurat.

Sistem informasi Kesehatan Sedangkan suatu kesatuan prosesur yang terorganisir untuk menghasilkan informasi dalam membuat keputusan yang berkaitan dengan manajemen pelayanan kesehatan di setiap jenjang didefinisikan sebagai Sistem Informasi Kesehatan (Siregar, 1992; Lippeveld, 2000; Hartono, 2000). Menurut WHO (2004): A system that integrates data collection,processing, reporting, and use of the information necessary for improving health service effectiveness and efficiency through better management at all levels of health services.”
Sistem informasi kesehatan (SIK) merupakan subsistem dari Sistem Kesehatan Nasional (SKN) yang berperan dalam memberikan informasii untuk pengambilan keputusan di setiap jenjang administrasi kesehatan baik ditingkat pusat, propinsi, kabupaten/kota atau bahkan pada tingkat
pelaksana teknis seperti rumah sakit, puskesmas.

Bentuk-bentuk SIK terdiri dari:
1. Sistem Informasi (SI) di fasilitas kesehatan:
 SI di Rumah Sakit seperti Sistem Pencatatan dan Pelaporan RS (SP2RS)
 SI di Puskesmas, seperti Sistem Pencatatan Pelaporan Puskesmas (SP3)
2. Sistem Informasi di masyarakat:
 Pemantauan Wilayah Setempat KIA,
 Surveillance Tuberculosis
Konsep Data
Data merupakan bahan mentah dari informasi. Data belum dapat bercerita banyak sehingga perlu diolah lebih lanjut melalui suatu metode untuk menghasilkan informasi. Kata data berasal dari Bahasa Latin. Kata asing tersebut bersifat jamak, yang bentuk tunggalnya adalah datum. Sedangkan kata yang sudah diambil menjadi istilah dalam Bahasa Indonesia adalah data, yang bermakna jamak tersebut. Dengan demikian untuk menyebutkan angka-angka yang banyak dalam Bahasa Indonesia cukup dengan kata ‘data’, dan tidak perlu dengan kata ‘data-data’.
Ditinjau dari jenis data dapat kita tentukan bermacam-macam data antara lain:
a.       Data kualitatif:
data yang dalam bentuk kualitas seperti baik, sedang kurang, atau data berbentuk pernyataan seperti terhadap KB (keluarga berencana) setuju, kurang setuju, tidak setuju, atau data dalam bentuk kategori rendah, sedang, tinggi.
b.      Data kuantitatif:
data dalam bentuk bilangan (numerik) misal, jumlah pengunjung puskesmas per hari, berat badan balita, tinggi badan ibu hamil, dll. Hal 1. 10

Sumber data kesehatan menurut sumbernya dapat dibedakan menjadi, sebagai berikut:
a. Data yang bersumber di masyarakat (Population based), seperti sensus, registrasi,dan survei di masyarakat.
b. Data yang bersumber di fasilitas pelayanan kesehatan (Health services provision Based), seperti: Sedangkan sumber data menurut sifatnya, dibedakan sebagai berikut: Data rutin, yaitu data yang dikumpulkan secara periodik atau
be rkala seperti: SP2RS dan SP3 dan Data non rutin/ adhoc, yaitu data yang dikumpulkan sesuai kebutuhan tidak dilakukan secara berskala.
2
Konsep Indikator
Pengertian indikator
Ada beberapa definisi indikator, diantaranya sebagai berikut :
a.       Indikator adalah variabel yang membantu kita dalam mengukur perubahan-perubahan yang terjadi baik secara langsung maupun tidak langsung (WHO, 1981)
b.       Indikator adalah statistik dari hal normatif yang menjadi perhatian kita yang dapat membantu kita dalam membuat penilaian ringkas, komprehensif dan berimbang terhadap kondisi-kondisi atau aspekaspek penting dari suatu masyarakat (Departemen kesehatan, Pendidikan dan Kesejahteraan Amerika Serikat, 1969)
c.       Indikator adalah variabel-variabel yang mengindikasikan atau memberi petunjuk kepada kita tentang suatu kejadian tertentu, sehingga dapat digunakan untuk mengukur perubahan (Green, 1992)

Dari definisi diatas dapat disimpulkan bahwa indicator kesehatan adalah variable yang dapat digunakan untuk mengevaluasi keadaan atau status kesehatan dan memungkinkan dilakukannya pengukuran terhadap perubahan-perubahan yang terjadi dari waktu ke waktu.
Suatu indicator tidak selalu menjelaskan kondisi kesehatan secara keseluruhan, tetapi hanya memberi petunjuk (indikasi) tentang keadaan tersebut. Jadi indicator bersifat proxy dari suatu kondisi tertentu. Misalnya cakupan kunjungan pertama ibu hamil ke pelayanan kesehatan merupakan ukuran tidak langsung atau ukuran proxy dari tingkat aksesibilitas ibu hamil.
Indikator harus menjadi landasan untuk diambilnya tindakan, misalnya rendahnya cakupan K1 menjadi dasar untuk pihak Puskesmas maupun Dinas Kesehatan meningkatkan K1 salah satunya melalui upaya peningkatan kesadaran pada ibu hamil tentang pentingnya pemeriksaan kehamilan. Ukuran Indikator sebaiknya bersifat kuantitatif dan umumnya terdiri atas pembilang (numerator) dan penyebut (denominator). Pembilang adalah jumlah kejadian yang diukur, sedangkan penyebut adalah besarnya populasi sasaran berisiko dalam kejadian yang bersangkutan, misalnya anak balita, ibu hamil, bayi baru lahir dan sebagainya. Indikator ini sangat bermanfaat untuk memantau perubahan dari waktu ke waktu dan membandingkan antar wilayah.
11
 Persyaratan indikator
Untuk menetapkan indicator ada beberapa syarat yang perlu diperhatikan, yang dikenal dengan istilah SMART (Simple, Measurable, Atributable, Reliable, Timely) dengan penjelasan sebagai berikut:
a.       (S)IMPLE – yaitu SEDERHANA, artinya indicator yang ditetapkan sedapat mungkin sederhana dalam pengumpulan data maupun dalam rumus penghitungan untuk mendapatkannya.
b.       (M)EASURABLE—yaitu DAPAT DIUKUR, artinya indicator yang ditetapkan harus menggambarkan informasinya dan ukurannya, dengan demikian dapat digunakan untuk perbandingan antara satu tempat dengan tempat yang lain atau antara suatu waktu dengan waktu lain. Kejelasan pengukuran menentukan bagaimana cara mendapatkan datanya.
c.        (A)TTRIBUTABLE—yaitu BERMANFAAT, artinya indicator yang ditetapkan harus bermanfaat untuk pengambilan keputusan. Ini berarti indicator harus merupakan operasionalisasi dari informasi yang dibutuhkan.
d.       (R)ELIABLE—yaitu DAPAT DIPERCAYA, artinya indicator yang tetapkan harus didukung oleh pengumpulan data yang baik. (T)IMELY—yaitu TEPAT WAKTU, artinya indicator yang ditetapkan harusnya dapat didukung dengan pengumpulan, pengolahan serta penyajian informasi yang tepat waktu ketika dibutuhkan dalam pengambilan keputusan.




Penetapan Indikator, perlu mempertimbangkan beberapa hal sebagai sebagai berikut:
a.       Bermanfaat artinya indikator dapat segera memperlihatkan tindakan yang diperlukan untuk meningkatkan kinerja program
b.       Terjangkau artinya indikator dapat disediakan dalam format dan waktu yang sesuai dengan keperluan program
c.        Etis artinya seluruh proses mulai dari pengumpulan data, pengelolaan sampai dengan penyajian data untuk indikator bersifat etis yaitu memenuhi hak individu, dalam hal kerahasiaan, kebebasan untuk memberikan keterangan (data) dan informed consent, sehubungan dengan implikasi dari data di tengah-tengah masyarakat umum
d.      Robust artinya indikator tersebut memenuhi syarat ilmiah yaitu valid, reliabel, spesifik dan sensitive
·         valid artinya indikator tersebut dapat mengukur situasi yang memang sedang dipelajari
·         reliabel artinya hasil pengukurannya selalu akurat dan konsisten
·          spesifik artinya indikator tersebut dapat secara khas mengidentifikasi situasi yang sedang dipelajari dan tidak mengikutsertakan kasus-kasus lain yang sedang dipelajari
·          sensitif artinya indikator tersebut mampu memperlihatkan perubahan situasi yang sedang dipelajari
e.        Mewakili artinya indikator dapat mencakup seluruh komponen atau kelompok masyarakat yang menjadi sasaran program
f.        Dimengerti artinya indikator dapat dengan mudah dimengerti dan disimpulkan oleh pelaku program.

Jenis indikator
Menurut jenisnya indicator dibedakan menjadi 4, yaitu
1.      Indikator yang diukur dalam bentuk absolute ,Indikator berbentuk absolute adalah indicator dalam bentuk jumlah dari suatu kejadian, contohnya jumlah kasus kematian ibu
2.       Indikator yang diukur dalam bentuk proporsi Indikator berbentuk proporsi adalah indicator yang bangun oleh pembilang dan penyebut, biasanya dinyatakan dalam persen, contohnya persentase pemakaian kontrasepsi yang dihitung dari jumlah pemakai kontrasepsi dibandingkan dengan Pasangan Usia Subur (PUS) dikalikan 100 persen


3.      Indikator yang diukur dalam bentuk rasio Indikator yang menunjukan suatu nilai yang didapat dengan membagi suatu nilai dengan nilai yang lain. Nilai numerator (pembilang) boleh berbeda dari nilai denominator (penyebut) atau denominator tidak memuat numerator, contohnya rasio jumlah bidan terhadap jumlah penduduk.
4.      Indikator yang diukur dalam bentuk rate Indikator yang menunjukkan frekuensi dari suatu kejadian selama periode waktu tertentu biasnya dinyatakan dalam bentuk per 1000 atau per 100.000 populasi yang dikenal dengan konstanta (k). Contohnya jumlah kematian kasarper 1000 penduduk

Bentuk Indikator dapat berupa :
 Jumlah
 Proporsi
 Rasio
 Rate
Pengolahan dan Analisis Data
Survei
Pengolahan dan analisis data survei yang akan diuraikan dalam modul ini adalah data survei tentang “Pertolongan persalinan oleh tenaga kesehatan dan faktor-faktor yang berhubungan”. Survei ini dilakukan untuk mengetahui berapa angka pertolongan persalinan oleh tenaga kesehatan
pada suatu kabupaten? dan faktor apa saja yang berhubungan dengan pemilihan pertolongan persalinan?
pengolahan dan analisa data survei dengan menggunakan perangkat lunak yang sangat sederhana dan
gratis menggunakan EpiData. EpiData merupakan program pengolahan dan analisis data yang merupakan pengembangan dari EpiInfo yang program aplikasinya dapat didownload dengan gratis di www.epidata.dk.
Pada umumnya, program komputer untuk pengelolaan data yang sering digunakan adalah dBase, Foxpro, dan Acces karena mempunyai fasilitas untuk dapat diprogram sesuai keinginan kita. Namun, tidak semua orang mampu menggunakan program tersebut untuk pengelolaan data, karena untuk penggunaannya membutuhkan pengetahuan dasar yang cukup tentang pemrograman komputer.
Berbeda halnya dengan EpiData, semua orang bisa menggunakannya dengan mudah dan cepat tanpa memerlukan pengetahuan dasar tentang pemograman komputer.
Analisa Data pada modul ini menggunakan program EpiData-Statistic.
Analisa yang akan diuraikan terbatas pada analisa deskriptif (univariat) dan hubungan antara dua variabel (Uji Statistik Bivariat). Proses pengolahan data survei ini dibagi menjadi beberapa langkah yang akan diuraikan secara rinci dalam penyajian berikut ini, yaitu:
1) Install EpiData,
2) Membuat Program Template,
3) Membuat Program Checks,
4) Memasukkan Data (Enter Data),
5) Install EpiDataStatistik (Analisis),
6) Analisis Data Deskriptif,
7) Analisis Data Uji-Statistik,



DAFTAR PUSTAKA
WHO. 2004. Developing health management information systems: a practical guide for developing countries Siregar, Kemal N. Pedoman Pengajaran Sistem Informasi Kesehatan,
1992;
Lippeveld, Health Information System, 2000;
Hartono, Sistem Informasi Kesehatan, 2000
Gordon, Health Information System, 1994
Mc leod, Analysis and Information System Design, 2001

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar