Tampilkan postingan dengan label Organisasi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Organisasi. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 17 September 2011

Bidan Delima



Lagu Bidan Delima
( Nada I Have A Dream )


 Impianku…….Kudendangkan , Senandungku……..Kuungkapkan
Mari perhatikan seorang Bidan
Punya masa Depan, Penuh Harapan
Mari Kita jain pelayanan yang berkualitas
Kami meyakini , peristiwa besar terjadi

Kan Kugapai......Impianku , Impianku.........Harapanku
Menolongku mewujudkan
Dijalan hidupku yang kepersembahkan
Padamu Bangsaku geberasi masa depan
Aku meyakini pada perlindungan Tuhan ku
Aku meyakini Bidan Delima memuaskan

Kan Kugapai.........Impianku
Bidan Delima.........Impianku....


                                                                                                             Pontianak,1 Februari 2008      
                                                                                                      Pelatihan Fasilitator Bidan Delima

PROGRAM BIDAN DELIMA
PENDEKATAN INOVATIF KUALITAS PELAYANAN BIDAN

I. PENDAHULUAN
A. LATAR BELAKANG

Sebagai salah satu profesi dalam bidang kesehatan, Bidan memiliki kewenangan untuk memberikan Pelayanan Kebidanan (Kesehatan Reproduksi) kepada perempuan remaja putri, calon pengantin, ibu hamil, bersalin, nifas, masa interval, klimakterium, dan menopause, bayi baru lahir, anak balita dan prasekolah. Selain itu Bidan juga berwenang untuk memberikan Pelayanan Keluarga Berencana dan Kesehatan Masyarakat.
Peran aktif Bidan dalam pelayanan Kesehatan Reproduksi dan Keluarga Berencana sudah sangat diakui oleh semua pihak. Berbagai penelitian menunjukkan bahwa 66% persalinan, 93% kunjungan ante natal (K1), 80% dari pelayanan Keluarga Berencana dilakukan oleh Bidan. Peranan Bidan dalam pencapaian 53% prevalensi pemakaian kontrasepsi, 58% pelayanan kontrasepsi suntik dilakukan oleh Bidan Praktek Swasta dan 25% pemakai kontrasepsi pil, 25 % IUD dan 25 % implant dilayani oleh Bidan Praktek Swasta (Statistik Kesehatan 2001).
Dari tahun ke tahun permintaan masyarakat terhadap peran aktif Bidan dalam memberikan pelayanan terus meningkat. Ini merupakan bukti bahwa eksistensi Bidan di tengah masyarakat semakin memperoleh kepercayaan, pengakuan dan penghargaan.
Berdasarkan hal inilah, Bidan dituntut untuk selalu berusaha meningkatkan kemampuan sekaligus mempertahankan dan meningkatkan kualitas pelayanannya termasuk pelayanan Keluarga Berencana dan Kesehatan Reproduksi. Karena hanya melalui pelayanan berkualitas pelayanan yang terbaik dan terjangkau yang diberikan oleh Bidan, kepuasan pelanggan baik kepada individu, keluarga dan masyarakat dapat tercapai.

B. DASAR HUKUM
1. UU No. 23 tahun 1992 tentang Kesehatan.
2. Anggaran Dasar IBI Bab II Pasal 8 dan Anggaran Rumah Tangga IBI Bab III Pasal 4.
3. Kepmenkes No. 900/VII/2002 tentang Registrasi dan Praktek Bidan.
4. SPK (Standar Pelayanan Kebidanan) IBI 2002.

C. MANFAAT
Banyak manfaat yang bisa diperoleh dengan berpartisipasi sebagai Bidan Delima yang tentunya akan mendukung performa dan identitas profesionalisme Bidan Praktek Swasta, diantaranya adalah:
1. Kebanggaan profesional
2. Kualitas pelayanan meningkat
3. Pengakuan organisasi profesi
4. Pengakuan masyarakat
5. Cakupan klien meningkat
6. Pemasaran dan promosi
7. Penghargaan bidan delima
8. Kemudahan lainnya

II. KONSEP BIDAN DELIMA

A. PENGERTIAN
Bidan Delima adalah suatu program terobosan strategis yang mencakup :
  1.  Pembinaan peningkatan kualitas pelayanan bidan dalam lingkup Keluarga Berencana(KB) dan Kesehatan Reproduksi.
  2. Merk Dagang/Brand
  3. Mempunyai standar kualitas, unggul, khusus, bernilai tambah, lengkap, dan memilikihak paten.
  4.  Rekrutmen Bidan Delima ditetapkan dengan kriteria, system, dan proses baku yangharus dilaksanakan secara konsisten dan berkesinambungan.
  5. Menganut prinsip pengembangan diri atau self development, dan semangat tumbuhbersama melalui dorongan dari diri sendiri, mempertahankan dan meningkatkan
  6. kualitas, dapat memuaskan klien beserta keluarganya.
  7. Jaringan yang mencakup seluruh Bidan Praktek Swasta dalam pelayanan Keluarga
    Berencana dan Kesehatan Reproduksi.

B. LOGO BIDAN DELIMA

Makna yang ada pada Logo Bidan Delima adalah:
  • Bidan  Petugas Kesehatan yang memberikan pelayanan yang berkualitas, ramahtamah,aman-nyaman, terjangkau dalam bidang kesehatan reproduksi,keluarga berencana dan kesehatan umum dasar selama 24 jam.
  • Delima :Buah yang terkenal sebagai buah yang cantik, indah, berisi biji dan cairanmanis yang melambangkan kesuburan (reproduksi).
  • Merah :  Warna melambangkan keberanian dalam menghadapi tantangan danpengambilan keputusan yang cepat, tepat dalam membantu masyarakat.
  • Hitam : Warna yang melambangkan ketegasan dan kesetiaan dalam melayani kaum perempuan (ibu dan anak) tanpa membedakan.
  • Hati  Melambangkan pelayanan Bidan yang manusiawi, penuh kasih sayang(sayang Ibu dan sayang Bayi) dalam semua tindakan/ intervensi pelayanan.
Bidan Delima melambangkan:
Pelayanan berkualitas dalam Kesehatan Reproduksi dan Keluarga Berencana yang berlandaskan kasih sayang, sopan santun, ramah-tamah, sentuhan yang manusiawi, terjangkau, dengan tindakan kebidanan sesuai standar dan kode etik profesi.
Logo/branding/merk Bidan Delima menandakan bahwa BPS tersebut telah memberikan pelayanan yang berkualitas yang telah diuji/diakreditasi sesuai dengan standar yang telah ditetapkan, memberikan pelayanan yang berorientasi pada kebutuhan dan kepuasan pelanggannya (Service Excellence).

C. TUJUAN
1. Meningkatkan kualitas pelayanan kepada masyarakat.
2. Meningkatkan profesionalitas Bidan.
3. Mengembangkan kepemimpinan Bidan di masyarakat.
4. Meningkatkan cakupan pelayanan Kesehatan Reproduksi dan Keluarga Berencana.
5. Mempercepat penurunan angka kesakitan dan kematian Ibu, Bayi dan Anak.

D. VISI DAN MISI
1. Visi
Meningkatkan kualitas pelayanan untuk memberikan yang terbaik, agar dapat
memenuhi keinginan masyarakat
2. Misi
Bidan Delima adalah Bidan Praktek Swasta yang mampu memberikan pelayanan
berkualitas terbaik dalam bidang kesehatan reproduksi dan keluarga berencana,
bersahabat dan peduli terhadap kepentingan pelanggan, serta memenuhi bahkan
melebihi harapan pelanggan

E. KERANGKA KERJA
Suatu program akan dapat terlaksana dengan baik melalui pengelolaan yang cermat dankonsisten; dengan orientasi utamanya pada potensi, ketersediaan sumber daya dankemampuan internal oranisasi pelaksananya.
Terkait dengan hal tersebut maka program Bidan Delima dikembangkan melalui komponenpelaksanaan sebagai berikut:
1. Membentuk Unit Pelaksana Bidan Delima tingkat PP, PD dan PC.
2. Menggalang dukungan internal IBI dan stakeholders.
3. Menyelenggarakan Pelatihan Fasilitator.
4. Menyiapkan Sistem Logistik.
5. Melaksanakan lokakarya Bidan Delima di masing-masing Cabang.
6. Melaksanakan Proses Validasi.
7. Menyelenggarakan upacara Pengukuhan Bidan Delima.
8. Menentukan sistem penarikan dan alokasi Iuran Tahunan Bidan Delima.
9. Melaksanakan monitoring dan evaluasi program.

III. PELAKSANAAN BIDAN DELIMA
A. STRATEGI

Menggalang upaya terpadu dalam peningkatkan kualitas pelayanan dan profesionalisme
Bidan Praktek Swasta dengan:
  1. Menyiapkan pengelola program Bidan Delima di setiap jenjang kepengurusan IBI.
  2.  Mengembangkan jaringan pelayanan Bidan Delima yang dirancang secara sistematissesuai dengan standar kualitas pelayanan yang baku.
  3. Mensosialisasikan program Bidan Delima kepada seluruh jajaran IBI dan Bidan PraktekSwasta di 15 Propinsi dalam rangka meningkatkan minat dan jumlah Bidan berpredikatBidan Delima.
  4.  Memberikan penghargaan kepada Bidan Delima yang berprestasi.
  5. Meluncurkan program pemasaran Bidan Delima untuk meningkatkan minat masyarakatmenggunakan jejaring pelayanan Bidan Delima.
B. IMPLEMENTASI
1. Komponen Penggerak
Komponen penggerak program adalah fasilitator dan Unit Pelaksana Bidan Delima.Fasilitator merupakan orang terdepan dan pioneer dalam pengembangan programBidan Delima di lingkungannya masing-masing. Fasilitator dipilih dan ditunjuk olehPengurus Cabang untuk melaksanakan rekrutmen, menstarship/pembimbingan danvalidasi terhadap calon Bidan Delima lainnya. Untuk menjadi fasilitator melaluipelatihan terlebih dahulu.

2. Buku Panduan
Program ini telah dilengkapi dengan berbagai buku pedoman, panduan, dan instrumen sebagai berikut :
a. Untuk manajemen.
  • Panduan pengorganisasian.
  • Petunjuk teknis pelaksana tingkat provinsi.
  • Petunjuk teknis pelaksana tingkat kabupaten/kota
b. Untuk fasilitator.
  • Buku Panduan fasilitator.
  •  Buku acuan fasilitator.
  •  Instrumen pra kualifikasi.
  • Instrumen validasi.
c. Untuk pelatih fasilitator
  • Pedoman pelatih.
  •  Buku acuan pelatih.
  • Buku acuan peserta pelatihan.
d. Untuk Bidan Delima.
  • Panduan pelayanan kesehatan maternal dan neonatal.
  •   Panduan praktis pelayanan kontrasepsi.
  •  Panduan pencegahan infeksi.
  •  Kode etik profesi.
  • Panduan pendidikan berkelanjutan.
  •  Standar pelayanan kebidanan.
  • Buku panduan kajian mandiri.
  •  Poster, leaflet.
3. Proses Menjadi Bidan Delima
Ada beberapa tahap yang harus dilalui seorang Bidan/BPS yang ingin menjadi Bidan Delima, yaitu:
a. Untuk menjadi Bidan Delima, seorang Bidan Praktek Swasta harus memenuhi persyaratan yang telah ditetapkan, yaitu : memiliki SIPB, bersedia membayar iuran, bersedia membantu BPS menjadi Bidan Delima dan besedia mentaati semua ketentuan yang berlaku.
b. Melakukan pendaftaran di Pengurus Cabang.
c. Mengisi formulir pra kualifikasi.
d. Belajar dari Buku Kajian Mandiri dan mendapat bimbingan fasilitator.
e. Divalidasi oleh fasilitator dan diberi umpan balik.

Prosedur validasi standar dilakukan terhadap semua jenis pelayanan yang diberikan oleh Bidan Praktek Swasta yang bersangkutan.
Bagi yang lulus, yaitu yang telah memenuhi seluruh persyaratan minimal dan presedur standar, diberikan sertifikat yang berlaku selama 5 tahun dan tanda pengenal signage, pin, apron (celemek) dan buku-buku. Bagi yang belum lulus, fasilitator terus mementor sampai ia berhasil lulus jadi Bidan Delima.

C. MONITORING DAN EVALUASI
Dalam rangka mempertahankan kualitas pelayanan Bidan Delima secara konsisten, dirancang suatu sistem monitoring yang mencakup antara lain:
1. Laporan bulanan
Secara rutin Bidan Delima diminta untuk mengirimkan laporan kepada PC IBI untuk diteruskan ke PP dan ditembuskan ke PD sehingga dapat dianalisa kemajuan, perkembangan dan hambatan yang dihadapi di lapangan.
2. Merancang Instrumen Penilaian Kualitas.
Instrumen (tools) yang dibagikan dan diisi oleh beberapa sampel Bidan Delima setelah 6 bulan pelaksanaan program. Kajian ini dibagikan melalui PC IBI setempat dan dikirimkan kepada PD dan PP untuk proses analisa selanjutnya.
3. Monitoring lapangan oleh PC, PD, PP dan Fasilitator akan dilakukan secara incognito untuk observasi konsistensi kualitas pelayanan Bidan Delima.
Semua hasil temuan akan dianalisa oleh Unit Pelaksana Bidan Delima Pusat untuk dilaporkan kepada semua Cabang dan Propinsi dan dipergunakan sebagai pertimbangan dalam proses perencanaan selanjutnya.

IV. PENUTUP
Program Bidan Delima akan terus dikembangkan secara mandiri. Sosialisasi terus dilaksanakan, yaitu memotivasi daerah/propinsi lain, termasuk sosialisasi kepada pemerintah daerah supaya mendukung dengan cara ada penyediaan anggaran pemerintah daerah untuk program ini. Dengan dukungan berbagai pihak, IBI yakin program ini akan berhasil.
Jakarta, 5 Juli 2005
Pengurus Pusat Ikatan Bidan Indonesia

KOLEKSI FOTO PELATIHAN FASILITATOR BIDAN DELIMA
DI PONTIANAK,KALIMANTAN BARAT

Bersama Ibunda Ketua PP.IBI Bu harni dan Pengurus Bu Mul,juga bersama Ibunda Arismawati  dan drg.Trisnawati ( ka.Pusk periode 2007-2008 Tambelan sampit )

 Bersama salah satu Pengurus IBI Pusat Ibunda Ros

 Materi Bidan Delima membuat asyikkk....


 Tim Uji Kompetensi
 Lagu merdu dari sang bidan delima

 Plang nama Di BPS ku












Organisasi Profesi


PERILAKU ORGANISASI PROFESI



Empat kata kunci pada makalah singkat ini, yakni;
(1) profesi; (2) organisasi; dan (3) organisasi profesi; (4) perilaku organisasi.

PROFESI
Profesi dimaknai sebagai pekerjaan atau kegiatan, dilakukan oleh seseorang dan menjadi sumber penghasilan, memerlukan keahlian (scientific service, knowledge based service ), kemahiran atau kecakapan yang diperoleh melalui pendidikan profesi, pengalaman dan pembelajaran terus menerus, dan memenuhi standar mutu dan norma tertentu.
       
        Elemen Esensial Profesi
Greenwood mengidentifikasi penting dari sebuah profesi; 
(1) Systematic Body of Theory; scientific and knowledge based service; 
(2) Professional Authority; clientele of professional group; 
(3) Sanction of Community; reward and punishment; 
(4) Regulative Core of Ethis; regulating relations of professional  persons; with client/customer and colleagues;  
 (5) The Professional Culture”’ sustained by formal professional association”, dikutip dari Howard M. Vollmer and  Donald L. Mills (1966) dalam bukunya “Professionalization”.
 
       
        Karakteristik Sebuah Profesi
Disarikan dari pendapat para pakar, karakteristik atau ciri sebuah profesi adalah sebagai berikut; 
(1) Orientasi layanan sosial melebihi layanan pribadi; 
(2) Mendapat pengakuan dan penghargaan  dari masyarakat; 
(3) Layanan bersifat saitifik atau ahli; 
(4) Dipersiapkan melalui pre-service education yang terencana secara integral; 
(5) Perbaikan secara terus menerus melalui in-service education. Satu contoh guru di negara maju, sedikitnya 11 hari setiap tahunnya mereka melakukan check up ke almamaternya untuk mengetahui atau mereview kompetensi sebagai agen pembelajaran;
(6) Standarisasi dan kualifikasi oleh organisasi profesi; 
(7) Bekerja dengan kode etik yang diputuskan oleh organisasi profesi;
(8) Jabatan sebagai karier hidup.

Prinsip-Prinsip Profesionalitas  
(1)        Memiliki bakat, panggilan jiwa dan idealisme; 
(2) Memiliki komitmen dalam pelayanan bermutu, keimanan, ketaqwaan dan akhlak mulia; 
(3) Memiliki kualifikasi akademik dan latar belakang pendidikan sesuai dengan bidang tugas; 
(4) Memiliki kompetensi yang diperlukan sesuai bidang tugas; 
(5) Memiliki tanggung jawab atas pelaksanaan tugas keprofesionalan; (6) Memperoleh penghasilan sesuai prestasi kerja; 
(7) Memiliki kesempatan untuk mengembangkan keprofesionalan secara berkelanjutan dengan belajar sepanjang hayat; (
8) Memiliki jaminan perlindungan hukum dalam melaksanakan tugas keprofesionalan; dan 
(9) Memiliki organisasi profesi yang mempunyai kewenangan mengatur hal-hal yang berkaitan dengan tugas keprofesionalan.

Tata Nilai
Perilaku organisasi diatur oleh kode etik yang memuat nilai-nilai universal. Misalnya, (1) Presiden Susilo Bambang Yudhoyono berisi nilai; “Change for The Better melalui; (a) prosperity; (b) Peace; (c) Justice; and (d) Democracy;  (2) Barack Obama; “Change. Belief It”; (c) Kementerian Pendidikan Nasional berisi nilai; “Melayani Semua dengan Amanah”; (3) FKIP Untan; “Kebersamaan dan Kualitas”.
Pelayanan adalah fungsi penting sebuah profesi (broader community service).


ORGANISASI

Manusia sebagai mahluk sosial tidak dapat hidup tanpa orang lain. Satu adalah jumlah yang terlalu sedikit untuk men-capai kebesaran.

Organisasi adalah kesatuan sosial yang dikoordinasikan secara sadar dengan sebuah batasan yang relatif dapat diidentifikasi, bekerja atas dasar yang relatif terus menerus untuk mencapai suatu tujuan bersama atau sekelompok tujuan.

Peter F. Drucker (2008) dalam bukunya “The Daily Drucker” menegaskan beberapa hal tentang organisasi: (1) semua organisasi perlu mengetahui bahwa tidak ada program atau aktivitas akan bekerja secara efektif dalam jangka panjang tanpa adanya modifikasi atau desain ulang, Warren Bennis dan Michael Mische (1996) dalam bukunya “The 21st Century Organization: Reinventing Through Reengineering” mengemukakan tahap rekayasa ulang organisasi; (a) Tahap I: Menciptakan Visi dan menetapkan tujuan; Tahap II: Benchmarking dan mendefinisikan keberhasilan; Tahap III: Menginovasi proses; Tahap IV: mentranspormasi organisasi; dan Tahap V: Memantau proses yang direkayasa ulang. (adaptability). Di antara organisasi yang paling keras mengabaikan kenyataan ini adalah pemerintah. Rumah sakit dan universitas sedikit lebih baik dibanding pemerintah dalam meninggalkan masa lalu; (2) semua organisasi harus mampu untuk berubah, artinya jika organisasi ingin tetap bertahan hidup, maka setiap organisasi memerlukan satu kompetensi inti, yakni inovasi (metapora dinosaurus-kecoa, dan filosofi pohon bambo). Sebuah organisasi modern harus mampu mengawali perubahan dengan berinovasi; (3) masyarakat di semua negara maju (satu diantara ciri masyarakat modern, filosofi sapu lidi, yang kecil mengalahkan yang bersar karena terorganisir dengan rapi yang berintikan sense of belonging, togetherness, and responsibility) telah menjadi suatu masyarakat organisasi. Organisasi adalah sarana untuk mencapai tujuan. Sarana semakin terspecialisasi (khusus) dan focus pada tujuan atau tugas yang dilakukakannya, maka akan semakin besar kapasitas kinerjanya. Dengan perkataan lain, Jika semakin jelas mendefinisikaan tujuannya, maka semakin kuat organisasi tersebut. Organisasi akan menjadi lebih efektif, jika semakin banyak standar pengukurannya dan standar tersebut digunakan dalam menilai kinerja. Organisasi lebih terlegitimasi jika semakin kuat dalam mendasari otoritas penilaian melalui kinerja; (4) rencana terbaik hanya sekedar maksud baik, kecuali jika hal itu diturunkan ke dalam kerja; (5) cara paling efektif untuk sukses dalam mengelola perubahan adalah dengan menciptakannya, dan masa depan adalah milik mereka yang memikirkannya atau mempersiapkannya hari ini; (6) semakin berkembang suatu organisasi, individu di dalamnya akan semakin dapat berkembang; (7) organisasi yang bekerja dengan baik menikmati apa yang dilakukannya; (8) satu prinsip penting organisasi adalah transparansi, memiliki otoritas dengan tanggung jawab yang sepadan,       
William A. Cohen (2008) dalam bukunya “A Class with Drucker”  (murid Drucker) menceritakan pengakuan gurunya tentang model organisasi yang sangat dikaguminya; (1)  tiga bidang manajemen militer yang disenangi Drucker, yakni; (a) pelatihan; (b) sistem promosi; (c) kepemimpinan. Asumsi “semakin giat berlatih semakin mudah melakukan tindakan yang sesungguhnya dan semakin baik pula kinerja”. Jenderal Perang Dunia II, George S. Patton menyatakan; “Setengah liter keringat pada saat latihan, sama nilainya dengan satu galon darah pada saat perang”. Semakin giat anda berlatih, maka makin baik kinerja anda.  Sistem seleksi promosi di kalangan militer AS belum sempurna, tetapi yang paling adil diantara sistem yang digunakan untuk organisasi besar. Delapan aturan kepemimpinan universal; (a) utamakan integritas; (b) kenali perangkat anda; (c) ungkapkan harapan anda; (d) tunjukkan komitmen yang luar biasa; (e) harapkan hasil positif; (f) urus anak buah anda; (g) utamakan tugas di atas urusan pribadi; (h) dan selalu berada di depan; (2) organisasi baru berbasis informasi dan inovatif.


ORGANISASI PROFESI

1.    Kehadiran organisasi profesi yang professional dan terpercaya, akan memperkuat eksistensi atau keberadaan sebuah profesi (entri point).

2.    Setiap profesi beroperasi melalui jejaringan organisasi profesi, unjuk kerjanya terlihat dari pelayanan yang diberikannya, mekanisme institusional yang mampu mempertemuan kebutuhan clientnya, mencari sumber daya untuk melakuan kegiatan pendidikan, latihan, riset dan pengembangan (learning organization).

3.    Nilai sosial sebuah organisasi profesi merupakan keyakinan dasar dan foundamental.

4.    Norma atau tata nilai sebuah organisasi profesi menjadi tuntunan atau pedoman perilaku organisasi


PERILAKU ORGANISASI
Paul Hersey dan Ken Blanchard (1990) dalam bukunya “Management of Organizational Behavior” menyatakan bahwa “perilaku pada dasarnya berorientasi pada tujuan. Dengan kata lain, perilaku kita pada umumnya dimotivasi oleh keinginan untuk memperoleh tujuan tertentu”. McClelland dan Atkinson mengemukakan kurva normal yang menghubungkan antara motivasi dan kemungkinan keberhasilan.
Keith Davis dan John W. Newstrom (1990) dalam bukunya “Human Behavior at Work: Organizational Behavior” mendefinisikan perilaku organisasi adalah telaah dan penerapan pengetahuan tentang bagaimana orang bertindak dalam organisasi. Perilaku organisasi adalah sarana manusia bagi keuntungan manusia.
Unsur pokok dalam perilaku organisasi adalah; (1) orang, dimana mereka membentuk system social intern organisasi; (2) struktur, menentukan hubungan resmi orang dalam organisasi; (3) teknologi, yakni sumber daya yang digunkan untuk bekerja, dan mempengaruhi tugas yang mereka lakukan; dan (4) lingkungan, artinya organisasi tidak berada di ruang vakum ataau hampa.
Gibson, Ivancevick dan Donnelly (1990) dalam bukunya “Organization”  mengatakan untuk mengetahui perilaku individu dalam organisasi perlu pemahaman tentang ciri psikologis dari perilaku individu tersebut, yakni; (1) perception (proses pemberian arti terhadap lingkungan oleh seorang individu, terkait dengan mindset, pikiranku adalah kelakuanku; (2) attitude; (3) personality/karakter; (4) learning, and (5) motivation (terpenuhinya need/motivasi/perilaku. Akhir kehidupannya Abraham Maslow menyesali teori hirarki kebutuhan yang diciptakan; fisiologi, keselamatan/keamanan, rasa memiliki, penghargaan dan aktualisasi diri; Herzberg; kondisi kerja, keselamaatan kerja, hubungan interpersonal, kondisi yang memotivasi, dan pekeerjaan itu sendiri; McClelland; afiliasi, kekuasaan, dan prestasi; Vroom; harapan/peluang/tantangan, keadilaan, reinforcement atau penguatan).
Beberapa variable selain variable psikologis di atas yang mempengaruhi perilaku individu; (1) Fisiologis; kemampuan fissik dan mental; dan (2) Lingkungan; keluarga, kebudayaan dan kelas social.
Alasan orang membentuk kelompok atau berorganisasi; (1) pemuasan kebutuhan; (2) kedekatan dan daya tarik; (3) tujuan kelompok. Biasanya sesuai dengan tujuan individu/modal sosial; (4) alasan ekonomi. 
Organisasi dapat membentuk perilaku individu anggotanya, tergantung pada integritas kepemimpinan, dan integritas kepemimpinan merupakan faktor penting dalam perubahan perilaku organisasi. Karena esensi dari kepemimpinan adalah mempengaruhi (influence) orang lain. Bagaimana kepemimpinan dapat menciptakan atmosfir organisasi yang kondusif.