Tampilkan postingan dengan label Manajemen. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Manajemen. Tampilkan semua postingan

Kamis, 10 Maret 2011

Manajemen Konflik


A.    PENDAHULUAN
Orang orang dalam organisasi mengembangkan keahlian dan pandangan yang berbeda tentang tugasnya /pekerjaannya.ketika interaksi diantara mereka terjadi maka konflik menjadi potensial untuk muncul.
Kondisi konflik tidak menguntungkan bagi kepemimpinan karena akan menimbulkan kesulitan dalam menggerakkan anggota agar bekerjasama dalam mencapai tujuan organisasi.

B.     KONFLIK
1.      Pengertian Konflik
Menurut bahasa,konflik dapat diartikan dengan perbedaan,pertentangan,dan perselisihan.Konflik juga merupakan suasana batin yang berisi kegelisahan karena pertentangan dua motif atau lebih yang mendorong seseorang berbuat kegiatan yang bertentangan pada waktu yang bersamaan.
Konflik berasal dari kata kerja Latin configere yang berarti saling memukul. Secara sosiologis, konflik diartikan sebagai suatu proses sosial antara dua orang atau lebih (bisa juga kelompok) di mana salah satu pihak berusaha menyingkirkan pihak lain dengan menghancurkannya atau membuatnya tidak berdaya. Atau segala bentuk hubungan antar manusia yang ditandai dengan adanya sifat sifat berlawanan.Konflik biasanya dilatarbelakangi oleh berbagai perbedaan cirri yang dibawa individu dalam suatu interaksi. Perbedaan tersebut di antaranya menyangkut ciri fisik, kepandaian, pengetahuan, adat istiadat, keyakinan, bahkan cara-cara mengatasi suatu persoalan. Dengan demikian konflik merupakan fenomena  yang wajar yang dapat terjadi pada setiap orang atau masyarakat.
Robbin (1996: 431) mengatakan, bahwa dalam organisasi konflik disebut sebagai The Conflict Paradox, yaitu pandangan bahwa pada satu sisi konflik dianggap dapat meningkatkan kinerja kelompok, tetapi di sisi lain dipandang merugikan sehingga perlu dikurangi atau bahkan dihilangkan. Konflik dapat ditinjau dari tiga pandangan, yaitu:
Ø  Pandangan tradisional (The Traditional View). Pandangan ini menyatakan bahwa konflik itu hal yang buruk, sesuatu yang negatif, merugikan, dan harus dihindari. Konflik disinonimkan dengan istilah violence, destruction, dan irrationality. Konflik ini merupakan hasil disfungsional dari buruknya komunikasi, rendahnya kepercayaan serta dan kegagalan pimpinan memahami kebutuhan dan aspirasi anggota.
Ø  Pandangan hubungan manusia (The Human Relation View). Pandangan ini menyatakan bahwa konflik dianggap sebagai suatu peristiwa yang wajar terjadi di dalam kelompok atau organisasi. Konflik dianggap sebagai sesuatu yang tidak dapat dihindari karena di dalam kelompok atau organisasi pasti terjadi perbedaan pandangan atau pendapat antar anggota. Oleh karena itu, konflik harus dijadikan sebagai suatu hal yang bermanfaat guna mendorong peningkatan kinerja organisasi. Dengan kata lain, konflik harus dijadikan sebagai motivasi untuk melakukan inovasi atau perubahan di dalam tubuh kelompok atau organisasi.
Ø  Pandangan interaksionis (The Interactionist View). Pandangan ini cenderung mendorong suatu kelompok atau organisasi terjadinya konflik. Hal ini disebabkan suatu organisasi yang kooperatif, tenang, damai, dan serasi cenderung menjadi statis, apatis, tidak aspiratif, dan tidak inovatif.  Oleh karena itu, menurut pandangan ini, konflik perlu dipertahankan pada tingkat minimum secara berkelanjutan sehingga tiap anggota di dalam kelompok tersebut tetap semangat, kritis, dan kreatif.
Biasanya ada 4 hal yang sering dipermaslahkan oleh pihak pihak yang terlibat dalam konflik,yaitu :
Ø  Fakta,situasi atau masalah yang pada waktu itu
Ø  Metode,cara terbaik untuk mancapai tujuan
Ø  Tujuan,apa yang ingin dicapai
Ø  Nilai,dukungan baik kualitas maupun tujuan jangka panjang.
Dengan demikian suatu konflik terjadi apabila dalam kenyataan menunjukkan timbulnya berbagai gejala sebagai berikut :
a.       Paling tidak ada dua pihak secara perseorangan / kelompok terlibat dalam suatu interaksi yang berlawanan
b.      Adanya saling pertentangan dalam mencapai tujuan
c.       Adanya tindakan yang saling berhadap hadapan akibat pertentangan
d.      Adanya ketidakseimbangan akibat usaha masing masing pihak
Konflik bukan merupakan tanda kelemahan organisasi atau bukti kegagalan pimpinannya,karena konflik merupakan tanda bahwa suatu organisasi sedang berada dalam atau sedang berdiri diambang kesulitan seperti halnya rasa sakit.
Boulding mengemukakan ada 4 unsur konflik yaitu :
a.       The parties. Pihak yang bertentangan
b.      The field of confict, artinya : The whole see of relevant possible states of social system. ( Any state of the social system which either of the parties to a conflict consider relevant is,of cours a relevant state. Dengan demikian dalam unsur ini memasukkan semua kemungkinan arah perkembangan konflik seperti konflik tertutup,terbuka atau konfrontasi.
c.       The dynamics of situation,situasi dimana pihak yang bertentang mendekati pihak ketiga  dari pihak lawannya
d.      Management ,control,or resolution of conflict,


Pandangan negatif tentang konflik
Pandangan positif tentang konflik
·         Menghamburkan tenaga
·         Menurunkan semangat kerja
·         Memecah belah tim kerja
·         Mempertajam perbedaan
·         Merusak kerjasama
·         Menimbulkan rasa curiga dan saling tidak percaya
·         Menurunkan produktifitas
·         Permasalahan yang ada menjadi terbuka dan jelas
·         Memperbaiki kualitas pemecahan masalah
·         Meningkatkan keterlibatan anggota
·         Memberikan kesempatan berkomunikasi secara spontan
·         Meningkatkan produktifitas
Oleh karenanya
Oleh karenanya
·         Konflik adalah jelek tidak boleh dan tidak perlu terjadi dan harus segera dipecahkan
·         Konflik terjadi sebagai akibat tidak lancarnya komunikasi,tiadanya keterbukaan,tidak ada kepercayaan
·         Lingkungan berpengaruh besar terhadap konflik
·         Manusia sebenarnya bersifat positif,bisa bekerjasama dan dapat dipercaya
·         Konflik itu baik,diperlukan dan sebagai kenyataan yang tidak dapat dihindari
·         Konflik timbul sebagai akibakt adanya berbagai aktifitas manusia dalam rangka memenuhi kebutuhan hidupnya dari kebutuhan pokok sampai kebutuhan kekuasaan.
·         Yang berpengaruh terhadap konflik selain lingkungan juga faktor keturunan dan faktor fisiologi lainnya.
·         Manusia pada dasarnya tidak buruk tetapi senantiasa didorong oleh berbagai fenomena agresifitas ,kompetisi  dan mencari jati diri

2.      Mitos tentang konflik
Mitos muncul apabila kurangpaham atau kurang mengerti yang menyebabkan seseorang berada dalam salah paham atau tidak objektif. Dan mitos ini akan mempengaruhi pikiran terhadap konflik.ada lima mitos tentang konflik yaitu :
a.       Adanya konflik merupakan pertanda kelemahan manajer
Manajer yang efektif dapat mengantisipasi konflik dan bila memungkinkan siap menghadapi konflik bila konflik tersebut muncul.Ketegangan biasanya akan muncul saat hubungan bisnis/organisasi regang,inilah yang membatasi setiap individu yang ada dalam organisasi tersebut,disini kemampuan seorang manajer teruji dan bila mengalami konflik maka selesaikanlah semua dengan kepala dingin.
b.      Konflik merupakan pertanda rendahnya perhatian pada organisasi
c.       Kemarahan adalah negatif dan merusak

d.        Konflik jika dibiarkan akan reda dengan sendirinya
Mitos ini tidak semuanya benar,,kita dapat menghindari konflik ini merupakan strategi bertahan yang sahih,tapi bertahan bukanlah satu satunya strategi.intensitas konflik beragam dan jika konflik tersebut diabaikan dapat menyebabkan konflik yang lebih besar.
e.       Konflik harus dipecahkan.
3.      Komponen konflik
a.       Interset ( adanya kepentingan ),yakni sesuatu yang memotivasi orang untuk melakukan atau tidak melakukan sesuatu
b.      Emosi,
c.       Values ( nilai ),komponen yang paling susah dipecahkan karena nilai itu merupakan hal yang tidak bisa diraba dan dinyatakan secara nyata.
4.      Sumber konflik
a.       Biososial,
b.      Kepribadian dan interaksi,termassuk didalamnya kepribadian yang suka menghasut,dll
c.       Struktural,banyak konflik yang melekat pada struktur organisasi dan masyarakat.
d.      Budaya dan ideologi
e.       Kinvergensi ( gabungan ).dalam situasi tertentu sumber sumber konflik itu menjadi satu,sehingga menimbulkan kompleksitas konflik itu sendiri.
5.      Cara pengendalian konflik
a.       Memberikan kesempatan kepada semua anggota untuk m,engemukakan pendapatnya tentang kondisi kondisi penting yang diinginkan.
b.      Meminta satu pihak menempatkan diri pada posisi orang lain dan memberikan argumentasi kuat mengenai posisi tersebut.
c.       Kewenangan pimpinan untuk mengambil keputusan atau memecahkan masalah secara efektif.
Selain itu ada beberapa cara untuk mengatasi konflik menurut Nader and Todd dalam satu bukunya “ The disputing Process Law in Ten Societies,yaitu :
a.       Bersabar ( Lumping )
b.      Penghindaran ( Avoidance )
c.       Kekerasan / paksaan ( Coercion ),suatu tindakan diambil bila konflik yang timbul berdampak membahayakan
d.      Negosiasi ( Negotiation ),dengan tidak melibatkan pihak ketiga dimana konflik dapat diselesaikan oleh orang orang yang berkonflik secara bersama sama.
e.       Konsiliasin ( Conciliation ) ,membawa konflik ke meja perundingan
f.       Mediasi ( Mediation ) ,hal ini menyangkut pihak ketiga yang ikut menangani dan membentu menyelesaikan konflik agar tercapai tujuan.
g.      Arbitrasi ( Arbitration ),kedua pihak yang berkonflik setuju pada kertlibatan pihak ketiga yang memiliki otoritas hukum dan sebelumnya mereka harus setuju untuk menerima apapun keputusannya.
h.      Peradilan ( Adjudication )
6.      Peran Kepemimpinan dalam pengendalian konflik
Efektifitas kepemimpinan seseorang dapat dinilai dari bagaimana ia mampu mengendalikan dan mengelola konflik,konflik merupakan masalah yang pelik untuk segera dicarikan pemecahannya,selain itu konflik juga dapat bermanfaat terutama dalam menciptakan kreatifitas,perubahan sosial yang konstruktif,membangun keterpaduan kelompok dan peningkatan fungsi kekeluargaan atau kebersamaan.Karena itu ada beberapa peran kepemimpinan dalam mengendalikan konflik agar tujuan nya bermanfaat diantarnya yaitu :
a.       Sanggup menyampaikan pokok masalah penyebab timbulnya konflik.
b.      Mau mengakui adanya konflik,
c.       Bersedia melatih diri untuk mendengarkan dan mempelajari perbedaan
d.      Sanggup mengajukan usul dan nasihat
e.       Meminimalisasikan ketidakcocokan

7.      Pandangan realistis dan konflik antar kelompok
a.       Konflik fungsional adalah sebuah konfrontasi diantara kelompok yang menambah keuntungan kinerja organisasi
b.      Konflik disfungsional setiap konfrontasi atau interaksi diantara kelompok yang merugikan organisasi atau menghalangi pencapaian tujuan organisasi.
c.       Konflik dan kinerja organisasi, dalam hal ini konflik dapat berdampak positif atau negatif terhadap kinerjaorganisasi,tergantung pada sifat konflik dan bagaimana konflik dikelola.
8.      Mengapa konflik antar kelompok terjadi ?
a.       Saling ketergantungan kerja,artinya karena adanya kegiatan dalam suatu pekerjaan misalnya perbedaan tujuan,persepsi,dan tuntutan.
b.      Perbedaan tujuan
c.       Perbedaan persepsi
d.      Tuntutan yang meningkat
9.      Konsekuensi konflik antar kelompok disfungsional adalah konflik dekstruktif yaitu yang merintangi tujuan kelompok dan kinerja kelompok.
Konsekuensi konflik ini akan terlihat hal hal sebagai berikut :
Ø  Perubahan dalam kelompok
Ø  Meningkatkan kekompakan kelompok
Ø  Timbulnya kepemimpinan otoriter
Ø  Fokus pada aktivitas
Ø  Menekankan pada loyalitas
Ø  Perubahan diantara kelompok
Ø  Distorsi persepsi
Ø  Stereotip yang negatif
Ø  Penurunan komunikasi
10.  Mengelola konflik antar kelompok melalui resolusi
Dilakukan dengan musyawarah atau sidang,pernyataan tertulis biasanya berisi tuntunan tentang sesuatu hal.ada beberapa tehnik diantaranya :
a.       Superordinat
Tujuannya  melibatkan pengembangan sebuah himpunan tujuan dan sasaran yang tidak dapat diperoleh tanpa kerjasama dari kelompok yang terlibat
Adanya perluasan sumberdaya untuk memecahkan masalah serta dilakukan pemecahan masalah secara bersama.
b.      Sistem naik banding
Dapat dilihat dua versi yaitu : versi pemimpin dimana pemimpin unit yang rendah bila tidak dapat menyelesaikan konflik antar kerlompoknyadapat meneruskan pada pimpinan setingkat lebih tinggi.
Versi kedua,yaitu versi pihak yang bertikai,dimana pihak yang bertikai tidak puas dan meneruskan kepada pimpinan yang lebih tinggi.
c.       Pergantian variabel manusia,yaitu dengan mengubah sikap dan perilaku yang menyebabkan konflik.
d.      Pergantian variabel struktural,yaitu mengubah struktur organisasi formaldari pihak pihak yang berkonflik,lewat desain pekerjaan,pemindahan koordinasi dan perputaran anggota kelompok.
e.       Membaur unit yang berkonflik,
f.       Perinrtah kekuasaan,
g.      Perlunakan,yaitu menekankan  kepentingan umumdari kelompok yang berkonflik dan melunakkan perbedaannya
h.      Penghindaran
i.        Kompromi

11.  Mengatasi konflik antar kelompok dengan cara negoisasi
Perundingan atau negoisasi mempertemukan kedua pihak yang konflik  bersama sama untuk mencapai sebuah persetujuan.
12.  Mengatasi konflik antara kelompok melalui stimulasi
a.       Komunikasi
b.      Mengubah struktur organisasi
c.       Mendorong adanya persaingan,beberapa pemimpin menggunakan bermacam cara untuk meningkatkan kompetisia antar kjelompok  misalnya dengan pemberian insentif,sehingga menimbulkan persaingan.jika dimanfaatkan secara benar  akan menimbulkan persaingan dan konflik yang sehat untuk kebaikan kinerja.

Sabtu, 05 Maret 2011

Social Marketing

MENGAPA SOCIAL MARKETING ?

Sebagian besar masyarakat termasuk pekerja sosial dan organisasi nirlaba menganggap dunia atau sektor sosial berseberangan dengan dunia komersial apalagi bidang pemasaran (marketing). Menarik diketahui bahwa ada kaitan erat antara dunia
pemasaran dan organisasi nirlaba. Dalam hal ini pemasaran sosial atau social
marketing. Untuk meyakinkan hal ini sejumlah pakar pun angkat bicara dalam
penyelenggaraan seminar “Strategi Social Marketing Bagi Keberlanjutan Organisasi Nirlaba” yang diselenggarakan Social Development Institute bersama Prakarsa Penguatan Filantropi dan Ford Foundation.

Para narasumber yang terlibat dalam penyampaian materi adalah Prof. Dr.Emil Salim, Linda D. Ibrahim, Ph.D, Effendi Ghazali, PhD., dan Hermawan Kertajaya. Untuk memahami lebih jauh, bagaimana hubungan antara keduanya, ada
baiknya memahami lebih dahulu, pengertian dari organisasi nirlaba, pemasaran
secara umum dan pemasaran sosial.

Organisasi Nirlaba (Non-Profit)
Organisasi nirlaba adalah lembaga kemasyarakatan dari pemberi jasa tertentu
sampai memperjuangkan isu tunggal tanpa memperhitungkan imbalan laba. Prinsip kerjanya membangun jejaring kerjasama antarsesama. Organisasipenting. Karena ia menjadi wahana penghubung antara masyarakat Madani dengan pemerintah dan pengusaha.

Social Marketing
Marketing (Pemasaran)
Philip Kottler, ahli pemasaran asal Amerika Serikat, mendefinisikan istilah
“pemasaran” secara umum sebagai “upaya memuaskan kebutuhan dan keinginan manusia melalui kegiatan tukar-menukar atau jual-beli. Tetapi “marketing” menurutnya lagi, lebih dari salah satu strategi penjualan. Pemasaran adalah sebuah rangkaian kegiatan yang dimanfaatkan untuk memperoleh perhatian dari pembeli potensial, memotivasi calon pembeli agar membeli, mendapatkan mereka untuk sungguh membeli, dan berusaha mengajak mereka membeli dan membeli lagi.
Tetapi ada juga yang mendefinisikan pemasaran sebagai cara pihak yang menjual sesuatu dalam mendefiniskan/menjelaskan, mempromosikan, dan mendistribusi produk serta memelihara hubungan dengan pembeli dan calon pembeli. 
Menurut ahli pemasaran Indonesia, Hermawan Kertajaya, pada prinsipnya marketing adalah sesuatu yang sangat sederhana. Yaitu, seni “menjual” diri (selling self) atau organisasi. Apabila seseorang atau organisasi mempraktikkan prinsip-prinsip: promosi tanpa memaksa, memahami dan menerapkan positioning secara tepat, memahami branding dan diferensiasi berarti orang atau lembaga tersebut telah mempraktikkan marketing Dasar-dasar Marketing”).

Dasar-dasar Marketing
Dasar-dasar pemasaran dikenal sebagai “4 P” dalam bahasa Inggris. Setiap “P” berkontribusi terhadap marketing mix, sebuah ‘formula’ dalam menjalankan strategi pemasaran. Berikut ini adalah penjabarannya:
1. Produk
Barang atau jasa pelayanan yang ditawarkan kepada calon
pembeli atau pelanggan. Ada beberapa hal berkaitan dengan
produk yang selalu perlu dievaluasi oleh penjual atau pemberi jasa.
2. Pricing
Harga/nilai produk atau layanan.
3. Place (tempat)
Tempat, lokasi atau saluran distribusi adalah cara menyediakan
produk untuk konsumen.
4. Promosi
Adalah gabungan atau mix dari periklanan, penjualan pribadi,
promosi penjualan dan kehumasan yang digunakan perusahaan
untuk mendukung tujuan-tujuan periklanan dan marketing.
Social Marketing
Social Marketing (Pemasaran Sosial) Di dunia bisnis, marketing diartikan sebagai “kegiatan bisnis-fenomena perdagangan “. Sedangkan, pemasaran sosial atau social marketing adalah aplikasi dari teknik pemasaran bisnis ke dalam analisis, perencanaan, eksekusi, dan evaluasi program-program organisasi nirlaba yang telah didisain berdasarkan target individual dalam rangka meningkatkan kesejahteraan personal, serta memenuhi kebutuhan manusia secara sensitif dan memuaskan.

Pada dasarnya social marketing adalah strategi “menjual” gagasan untuk
mengubah pemikiran, sikap dan perilaku masyarakat. Berdasarkan pengalaman,
penerapan strategi pemasaran dalam dunia sosial terbukti dapat memberdayakan organisasi dalam memperoleh dukungan untuk melanjutkan hidupnya, antara lain dalam memperoleh sumber dana potensial yang berasal dari masyarakat secara luas (fund raising).
Perbedaan mendasar antara “pemasaran komersil” dan “pemasaran sosial”, menurut Andreason, adalah pada prinsip “4 P” yang dikenal sebagai marketing mix. Di dunia bisnis “4P”, adalah promotion (promosi), price (harga), product (produk) dan place (tempat). Dalam pemasaran sosial ada dua hal lain yang
membuat berbeda, yaitu adanya partnership (kemitraan) dan policy (kebijakan).
Pada prinsipnya, praktik pemasaran sosial tak ada artinya apabila kemitraan
tidak dijadikan tujuan organisasi. Demikian pula tak ada artinya upaya mengubahperilaku melalui pemasaran sosial apabila tidak diikuti atau  ilanjutkan dengan upaya
mendorong tersusunnya sebuah kebijakan. Yang jelas penerapan social marketing, tujuannya bukan semata-mata fund raising (memperoleh dana) karena dalam kenyataan social marketing juga berarti menyampaikan gagasan secara efisien dan tepat.
Pemasaran sosial di mata dunia bisnis
Ada semacam benang penghubung antara dunia bisnis dan sosial yang
terkadang luput dari perhatian kita. Ketika bicara bisnis, para pebisnis kerap kali lupa bahwa mereka juga harus membawa nilai-nilai sosial. Sebaliknya, pelaku di dunia sosial seringkali lupa untuk bersikap profesional sehingga tak hanya dapat dipercaya pemberi dana atau penyumbang, melainkan juga bekerja secara efisien dan bagus.
Menarik disimak bagaimana posisi social marketing dan cara pandang praktisi
bisnis dan marketing bisnis. Hermawan Kertajaya memaparkan bahwa pemasaran sosial termasuk dalam salah satu pilihan bagi pebisnis atau perusahaan untuk berbuat baik. Di dunia bisnis kini perusahaan dinilai “besar” oleh capital market dan Social Marketing publik apabila melakukan kebaikan demi kemanusiaan.” Sebagaimana dituangkan Kotler bersama rekannya Nancy Lee dalam bukunya “Corporate Social Responsibilty”, dengan istilah “Doing Great by Doing Good”.
Kini di berbagai belahan dunia, perusahaan-perusahaan besar seolah
berlomba melaksanakan Corporate Social Responsibilty (CSR). Yaitu, semacam
program kegiatan yang sifatnya sukarela dan bukan bertujuan komersil dengan
menyisihkan sejumlah dana untuk kemanusiaan dan kemasyarakatan. Ini ada
berkaitan erat dengan kebijakan pajak di negara barat. Ada semacam kebijakan pajak kepada perusahaan apabila menyisihkan dana untuk kegiatan sosial kemasyarakat berupa potongan pajak. Melalui kebijakan ini, perusahaan memperoleh insentif pajak sekaligus memperoleh keuntungan lain berupa penilaian positif dari pasar dan juga publik.
Buku dengan judul Corporate Social Responsibilty (CSR), ditulis Philip
Kottler bersama Nancy Lee, memuat semacam kerangka kerja (framework) yang disebut “doing great by doing good”. Lebih rinci, ada 6 pilihan untuk berbuat baik (6 Option of Doing Good). Yaitu, cause promotions, cause related marketing, social marketing, corporate philantropy, community volunteering  Jadi, social marketing merupakan salah satu dari pilihan-pilihan untuk berbuat baik.
Pentingnya social marketing
Mengapa organisasi nirlaba perlu menggunakan strategi social marketing?
Menurut, Hermawan, sebenarnya sektor bisnis dan sosial tak boleh dipisahkan.
Meskipun pada kenyataannya organisasi nirlaba berbeda dari lembaga bisnis atau perusahaan dalam hal tujuan dan pelaksanaan program. Namun, perusahaan dan pebisnis harus selalu ingat social values, sedangkan organisasi nirlaba dan para aktivisnya harus memiliki kinerja dan sikap profesional dalam menjalankan programprogramnya.
Prof. Dr. Emil Salim berpendapat, organisasi nirlaba dapat menggunakan
strategi social marketing untuk mempengaruhi kelompok sasaran agar secara
sukarela menerima, menolak, menanggalkan atau mengubah suatu sikap dan
perilaku bagi kemajuan individu, kelompok dan keseluruhan masyarakat. Praktik social marketing paling mendasar adalah dengan mengaitkan nilai inti (core value) organisasi nirlaba dengan perubahan perilaku masyarakat yang diperlukan. Tentu saja social marketing berperan penting karena dapat menganalisa perilaku
berdasarkan nilai-nilai yang berlaku, memilih kelompok sasaran dan perilaku yang perlu diubah serta “menjual” gagasan perubahan. Social Marketing
Penerapan social marketing menurut narasumber dari bidang sosiologi, Dr.
Linda D. Ibrahim, memungkinkan organisasi melakukan analisa, perencanaan, dan pengawasan terhadap implementasi program. 
Sedangkan Menurut Effendi Ghazali, Ph.D, pemasaran sosial juga menjadi penting karena berperan dalam memelihara kredibilitas organisasi nirlaba di mata masyarakat, di mata pemerintah dan donor.
Selain itu, penguasaan social marketing bagi organisasi nirlaba dapat melepas ketergantung organisasi nirlaba dari lembaga donor. Sebab, potensi dana yang berasal dari publik begitu besar dan selama ini belum “disentuh” dan dikelola. Public funding di Indonesia cukup berpotensi karena basis
agama yang kuat.

Peran Pemasaran Sosial dalam Perubahan Sosial
Pemasaran sosial mengantisipasi masalah-masalah sosial yang terjadi dalam
proses perubahan sosial. Pemasaran sosial berperan dalam mengarahkan
perubahan melalui perencanaan (planned social change). Tetapi memasarkan ide sosial tidak semudah menjual produk barang. Perubahan sosial sebagai suatu proses mencerminkan dan atau terkait dengan dinamika sosial yang menghasilkan dampak positif maupun negatif dalam masyarakat. Dinamika perubahan struktur sosial, dapat terkait dengan jumlah penduduk, strata sosial, kelompok sosial, isntitusi sosial, kebijakan dan masih banyak lagi.
Perubahan yang terjadi berbeda antara satu masyarakat dengan masyarakat
lainnya. Ini berkaitan dengan kondisi sosial, ekonomi dan budaya masyarakat
tersebut. Penting memahami dan mengkaji masyarakat di mana perubahan sosial itu
Tujuan pemasaran tidak akan tercapai tanpa manajemen pemasaran
yang mencakup analisa, perencanaan, implementasi dan pengawasan yang
telah didisain sedemikian rupa. Namun seiring dengan perkembangan sosial
maka kemajuan teknologi, kompleksitas dalam dunia bisnis meningkat dan
menjadi tantangan para manajer pasar. Akhirnya, perencanaan saja tidak
cukup tanpa strategi. Untuk memahami lebih jauh tentang strategi social
marketing.

Isu dan Perubahan Sosial
Pelaku pembangunan membutuhkan kemampuan dan ketrampilan untuk memahami serta mengelola isu sosial yang muncul di masyarakat. Umumnya isu sosial berkembang seiring dengan proses perubahan sosial. Saat ini isu-isu sosial yang tidak ada habis-habisnya adalah seputar ”korupsi”, ”bencana alam Tsunami”, ”narkoba”, ”lingkungan hidup”, ”pemberdayaan masyarakat”, ”flu burung”, ”krisis kepercayaan” dan sebagainya.
Dibutuhkan strategi yang komprehensif untuk mengelola isu sosial yang
nantinya diharapkan dapat mengubah perilaku individu, kelompok bahkan
masyarakat luas. Kampanye sosial adalah bagian dari promosi pemasaran sosial.
Langkah awal yang perlu dilakukan untuk membuat kampanye sosial adalah analisa situasi. Analisa situasi internal untuk mengenal aktor terkait, baik kemampuan organisasi dan eksternal untuk memahami isu sosial. Kemudian, mempelajari isuyang dihadapkan pada masalah sosial atau dilema dari karakter utama, bisa terkait dengan suatu kebijakan. Setelah mengidentifikasi karakter isu maka dapat dirumuskan berbagai pertanyaan terkait dengan isu tersebut.
Riset sosial adalah tulang punggung dari pemasaran sosial. Informasi penting
yang diperoleh dari riset adalah info lengkap tentang isu sosial yang sedang dihadapi.
Riset juga sangat penting untuk merumuskan strategi dalam menghasilkan konsep yang tepat agar mampu menumbuhkan kepedulian dan mau berderma sebagai Social Marketing

”output” kampanye sosial. Berbagai metode penelitian sosial dapat digunakan untuk meneliti karakter dari isu sosial. Apabila kerangka besar isu sosial telah diperoleh maka organisasi dapat menyusun rencana strategis dengan obyektif dan tindakan sosial yang akan ditempuh.
Situasi sosial, menurut Linda, antara lain dapat diketahui dengan lebih tajam
apabila meminjam mata sosiologi (sociological eye). Dengan memahami prinsipprinsip sosiologis dalam meneropong dan mengeksplorasi situasi, menurut Linda, organisasi Enterpreuner sosial
Dalam perkembangan social marketing selanjutnya, muncul istilah ”social enterpreneurship”. Tak berbeda jauh dengan yang dikenal di dunia bisnis, istilah ini memiliki makna ”kepeloporan” dan ”kemandirian” dalam pelaksanaan program dan
pengumpulan dana. Para narasumber menyatakan bahwa yang paling perlu sebelum sampai ke tahapan ini adalah menata organisasi terutama untuk membangun kepercayaan (building trust).

Menurut Hermawan,enterpreneur sosial adalah produk dari kepemimpinanyang profesional, yang berani mengambil risiko, tajam dalam membidik peluang, demikian pula handal dalam membuat eksekusi demi keberlanjutan organisasi. Meskipun banyak yang meyakini, enterpreneur itu ’dilahirkan’, tetapi Hermawan mengatakan ini bisa dipelajari dan diteliti untuk dikembangkan.